PENDAFTARAN

Universitas Teknokrat Indonesia, Kampus Berdampak terbaik di Lampung, Tanamkan Nalar Rekayasa Sejak Dini, Latih Siswa SMAN 1 Jati Agung Rancang Jembatan Mini dari Stik Es Krim

Lampung Selatan – Universitas Teknokrat Indonesia Kampus Berdampak terbaik di Lampung kembali menunjukkan komitmennya sebagai Kampus Berdampak melalui pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SMAN 1 Jati Agung, Lampung Selatan. Mengusung tema “Miniature Bridge Engineering”, kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar yang inovatif bagi para siswa dengan mengenalkan konsep dasar rekayasa struktur menggunakan media sederhana berupa stik es krim.

Baca Juga: MEMBANGGAKAN !! Mahasiswa Berdampak Universitas Teknokrat Indonesia, Borong Dua Medali Perak di Invitasi Petanque Mahasiswa Nasional 2026

Program tersebut menjadi salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat melalui pendidikan berbasis praktik. Melalui pendekatan yang menyenangkan, para siswa diajak memahami bahwa ilmu teknik sipil dan arsitektur bukan sekadar kumpulan rumus dan perhitungan matematis, tetapi juga tentang logika, kreativitas, serta kemampuan memecahkan masalah.

Mengenalkan Dunia Rekayasa dengan Cara Menyenangkan

Kegiatan dipimpin oleh dosen Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. Ir. Lilik Ariyanto, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., bersama tim dosen yang terdiri atas Sefrinta Sasma Murdiagatma, S.T., M.T., Ir. Hadyan Arifin Bustam, S.T., M.T., dan Rahma Sopilawati, S.Ars., M.T. Kegiatan tersebut juga melibatkan delapan mahasiswa sebagai mentor yang mendampingi peserta selama pelatihan berlangsung.

Dalam sambutannya, Dr. Lilik Ariyanto menegaskan bahwa pengenalan konsep rekayasa sejak usia sekolah sangat penting untuk membentuk generasi yang memiliki kemampuan berpikir analitis sekaligus inovatif.

“Pembangunan infrastruktur masa depan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki intuisi rekayasa yang baik. Kami ingin menunjukkan kepada para siswa bahwa membangun struktur yang kuat bukan ditentukan oleh banyaknya material yang digunakan, melainkan bagaimana material tersebut dirancang agar mampu mendistribusikan beban secara efektif,” ujarnya.

Belajar Prinsip Teknik Sipil Melalui Miniatur Jembatan

Pelatihan diawali dengan penyampaian materi mengenai konsep dasar gaya tekan (compression) dan gaya tarik (tension) yang menjadi fondasi dalam perancangan struktur bangunan.

Melalui demonstrasi sederhana, para siswa diperlihatkan bagaimana stik es krim yang tampak rapuh dapat berubah menjadi struktur yang sangat kuat ketika disusun menggunakan pola segitiga atau sistem truss seperti Warren Truss maupun Pratt Truss, yang selama ini banyak diterapkan pada konstruksi jembatan modern.

Selain mendapatkan teori, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai pentingnya aspek estetika dalam desain konstruksi. Para dosen menjelaskan bahwa sebuah jembatan tidak hanya harus kokoh dan aman, tetapi juga harus memiliki nilai visual, efisiensi ruang, dan mempertimbangkan aspek keberlanjutan.

Mahasiswa Menjadi Mentor, Ciptakan Pembelajaran Kolaboratif

Salah satu keunikan kegiatan ini adalah keterlibatan aktif mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia sebagai mentor.

Mereka mendampingi setiap kelompok siswa mulai dari proses perencanaan desain, penyusunan rangka, penggunaan perekat, hingga tahap penyempurnaan konstruksi miniatur jembatan.

Pendekatan peer-to-peer mentoring tersebut menciptakan suasana belajar yang lebih komunikatif dan interaktif. Para siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan dari dosen, tetapi juga mendapatkan inspirasi langsung dari mahasiswa yang telah lebih dahulu menempuh pendidikan di bidang teknik.

Melalui pendampingan tersebut, siswa didorong untuk berani mencoba berbagai desain, berdiskusi dalam tim, serta menemukan solusi atas setiap tantangan yang muncul selama proses pembangunan miniatur jembatan.

Baca Juga: MEMBANGGAKAN !! Alumnus Berdampak Universitas Teknokrat Indonesia Raih Emas PON dan Kini Berkarier sebagai ASN

Kompetisi Mini Uji Ketahanan Jembatan

Sebagai puncak kegiatan, seluruh peserta mengikuti kompetisi pembuatan jembatan mini.

Setiap kelompok memperoleh jumlah stik es krim dan lem yang sama, kemudian ditantang merancang jembatan dengan bentang tertentu yang mampu menahan beban statis terbesar.

Suasana menjadi semakin meriah ketika proses pengujian dilakukan. Beberapa jembatan yang tampak menarik secara visual ternyata gagal menahan beban karena lemahnya sambungan antarkomponen. Sebaliknya, desain yang sederhana namun menerapkan prinsip rekayasa struktur secara tepat justru mampu menopang beban jauh lebih besar.

Menurut Dr. Lilik Ariyanto, pengalaman tersebut memberikan pembelajaran yang jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar teori di dalam kelas.

“Saat jembatan mengalami keruntuhan, di situlah proses belajar yang sesungguhnya dimulai. Siswa akan menganalisis bagian yang gagal, mencari penyebabnya, lalu memperbaiki desain mereka. Pola berpikir seperti inilah yang menjadi dasar lahirnya seorang engineer,” jelasnya.

Sekolah Apresiasi Kolaborasi dengan Universitas Teknokrat Indonesia

Plt. Kepala SMAN 1 Jati Agung, Yenny Ratnasarie SY, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

Menurutnya, pelatihan semacam ini memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi siswa karena mampu mengenalkan dunia teknik secara langsung melalui praktik yang menarik dan mudah dipahami.

Ia berharap kerja sama dengan Universitas Teknokrat Indonesia dapat terus berlanjut melalui berbagai program edukatif lainnya sehingga semakin banyak siswa yang memperoleh wawasan mengenai dunia perguruan tinggi dan profesi di bidang rekayasa.

Selain meningkatkan kemampuan teknis (hard skills), kegiatan ini juga melatih kemampuan komunikasi, kerja sama tim, kepemimpinan, manajemen waktu, hingga penyelesaian masalah (problem solving) yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja masa depan.

Wakil Rektor: Kampus Harus Hadir Membawa Solusi bagi Masyarakat

Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H. Mahathir Muhammad, S.E., M.M., memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan PKM yang dinilai mampu menghadirkan pembelajaran kontekstual bagi siswa sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi di tengah masyarakat.

Menurutnya, Universitas Teknokrat Indonesia terus mendorong dosen dan mahasiswa untuk menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi dedikasi tim dosen dan mahasiswa yang telah menghadirkan pembelajaran teknik secara kreatif dan aplikatif kepada para siswa. Program seperti ini bukan hanya memperkenalkan dunia rekayasa sejak dini, tetapi juga membangun budaya berpikir kritis, kolaboratif, dan inovatif. Universitas Teknokrat Indonesia akan terus mendukung lahirnya berbagai program Kampus Berdampak yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat serta menyiapkan generasi muda yang siap menghadapi tantangan pembangunan nasional,” ujar Mahathir.

Ia juga mengajak para lulusan SMA/SMK yang memiliki minat pada bidang teknik sipil, arsitektur, maupun teknologi untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Teknokrat Indonesia agar dapat mengembangkan kompetensi sesuai kebutuhan industri dan pembangunan masa depan.

Komitmen Universitas Teknokrat Indonesia Mendukung SDGs

Pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat ini sekaligus menjadi wujud nyata kontribusi Universitas Teknokrat Indonesia dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Kegiatan ini sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penyediaan pengalaman belajar yang inovatif, aplikatif, dan berbasis praktik sehingga mampu meningkatkan kualitas pendidikan bagi generasi muda. Selain itu, program ini juga mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) dengan memperkenalkan konsep rekayasa, inovasi teknologi, serta penguatan kemampuan desain dan pemecahan masalah sejak usia sekolah.

Di sisi lain, kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah dalam pelaksanaan kegiatan ini turut memperkuat implementasi SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui sinergi antarlembaga dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.

Melalui berbagai program pengabdian yang berdampak, Universitas Teknokrat Indonesia terus menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga aktif menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Kegiatan di SMAN 1 Jati Agung menjadi bukti bahwa inovasi dapat dimulai dari hal-hal sederhana, namun mampu melahirkan mimpi besar dan menginspirasi lahirnya calon-calon insinyur Indonesia yang akan membangun masa depan bangsa.

Baca Juga: Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Kampus Berdampak Terbaik di Lampung, Hadiri Munas VI ABPPTSI, Dorong Penguatan PTS yang Unggul dan Berkelanjutan

#PengabdianKepadaMasyarakat
#KampusBerdampak
#MahasiswaBerdampak
#DosenBerdampak