Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Juara III Lomba Inovasi Daerah Lampung 2022

Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) Tahun ini mengikuti Lomba Anugerah Inovasi Daerah Provinsi Lampung Tahun 2022 yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Lampung.

Tim Teknokrat meraih juara III

juara balitbangda

Tim Teknokrat meraih juara III kelompok riset dengan karya “Desain Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya untuk Tanaman Hidroponik Berbasis Internet of Things”. Upacara penghargaan diadakan hari ini di Hotel Emersia. Mahasiswa menerima hadiah dari kepala Balitbangda Lampung Hamartoni Ahadis.

Mahasiswa teknokrat Ilham Dhani mengatakan inovasi yang dilakukan adalah tentang hidroponik itu sendiri. Seperti penentuan unsur hara pada tanaman, juga dapat secara otomatis menentukan nilai unsur hara A, B, PH. Ia didampingi anggota tim lainnya, Nur Faqih Ardiantoro.
Ilham menambahkan, manfaat dari karyanya adalah mengembangkan hidroponik itu sendiri, karena memang begitulah teknologinya.

Baca juga: Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Dr HM Nasrullah Yusuf SE MBA Narasumber Talk Show Peringatan HAKTEKNAS ke-27 Balitbangda

Ia menambahkan, untuk pembiayaan dalam pembuatan karyanya itu ditanggung sepenuhnya oleh Universitas Teknokrat Indonesia.

“Pembuatan karya itu diangkat dari judul skripsi saya. Perkiraan tidak sampai dua bulan, tapi di penelitian saya itu setengah tahun,” kata dia.

Mahasiswa semester 8 itu mengatakan, untuk kesulitannya ialah mengukur nutrisi secara otomatis karena pemberian pupuk secara otomatis nilainya tidak teratur.

Ia berharap ke depannya untuk penggunaan baterainya lebih ditingkatkan lagi karena alatnya tidak bergantung pada energi listrik, melainkan menggunakan energi terbarukan pembangkit listrik tenaga surya, penggunaan kontrol, dan penambahan sensor-sensor lainnya.

Penjelasan Alat Hidroponik Bertenaga Surya berbasis Iot

alat hidroponik bertenaga surya

Alat ini resmi bernama hidroponik bertenaga surya berbasis IoT. Ilham mengatakan, prinsip kerja hidroponik PLTS berbasis IoT ini tidak perlu menggunakan listrik PLN, tetapi menggunan panel surya 100 Wp untuk sumber energi listrik. Alat ini juga menggunakan baterai 12V DC sebagai penyimpan daya sementara yang dihasilkan oleh panel surya.

Ini bertujuan menghidupkan pompa air, mikrokontroler, 4 pristaltick pump , relay, sensor TDS, sensor pH, sensor ultrasonic, sensor tegangan, dan keran otomatis. Fungsi keseluruhan terutama untuk dapat menghidupkan pompa air untuk terus bersirkulasi selama 24 jam.

Jika air sudah bersirkulasi, sensor TDS akan mendeteksi air terkandung nutrisi. Jika tidak, pristaltick pump akan aktif secara otomatis mengalirkan nutrisi A dan B. Sensor pH mendeteksi air saat bersirkulasi jika pH yang dibutuhkan tanaman terlalu rendah, pristaltic pump secara otomatis mengalirkan cairah pH+.

Jika pH yang dibutuhkan tanaman terlalu tinggi, pristaltic pump mengalirkan cairan pH-. Sensor ultrasonic ( water level ) berfungsi untuk mengukur ketinggian air. Jika air rendah secara otomatis kran terbuka dan air mengalir untuk mengisi penampung air yang terdapat di hidroponik.

Sensor tegangan berfungsi mengukur tegangan pada baterai. Arduin UNO berfungsi sebagai kontroler pada sensor-sensor yang digunakan dan Mikrokontroler ESP 32 sebagi pemroses data yang akan dikirimkan ke aplikasi Smart Hidroponik. Aplikasi Smart Hidroponik berfungsi untuk memonitoring jumlah nutrisi, ketinggian pH air, kerendahan pH air, tegangan baterai, dan memonitoring jadwal waktu pembenihan dan waktu panen.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada dosennya Novia Utami Putri ST MT atas bimbingannya. Dikatakannya, bimbingan instruktur sangat penting untuk inovasi ini. Ia berharap, penggunaan energi surya akan lebih banyak diadopsi oleh masyarakat di masa mendatang.

Apresiasi Wakil Rektor UTI

Dr H Mahathir Muhammad SE MM, Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, mengatakan kampus sangat bangga dengan prestasinya dalam kompetisi inovasi regional ini. Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa dan dibimbing oleh dosen dapat bermanfaat bagi masyarakat, ujarnya.

Mahathir menjelaskan, para teknokrat berkomitmen menghijaukan kampus. Penggunaan tenaga surya juga sebagai bentuk komitmen kampus untuk green campus, ujarnya.