PENDAFTARAN

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Bekali Peserta LEP 2026 dengan Strategi Pengambilan Keputusan bagi Pemimpin Masa Depan

Bandar Lampung – Kemampuan mengambil keputusan secara tepat menjadi salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki seorang pemimpin, khususnya dalam menghadapi dinamika organisasi dan perubahan lingkungan yang semakin kompleks.Hal tersebut menjadi salah satu materi yang disampaikan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Teknokrat Indonesia, Auliya Rahman Isnain, M.Cs., dalam kegiatan Leadership Education Program (LEP) 2026 Universitas Teknokrat Indonesia.

Baca Juga:Leadership Education Program: Wakil Bupati Pesawaran Dorong Mahasiswa Teknokrat Jadi Pemimpin yang Kolaboratif dan Berdampak

Dalam sesi pembekalan tersebut, Auliya memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai tahapan pengambilan keputusan yang sistematis. Menurutnya, seorang pemimpin tidak seharusnya mengambil keputusan secara spontan tanpa melalui proses analisis yang matang.

Enam Tahapan Pengambilan Keputusan

Auliya menjelaskan bahwa proses pengambilan keputusan di tingkat manajerial setidaknya perlu melalui enam tahapan utama. Setiap tahapan memiliki fungsi penting untuk memastikan keputusan yang diambil mampu menjawab persoalan sekaligus memberikan dampak positif bagi organisasi.

Tahap pertama adalah recognition of decision requirement atau pengenalan kebutuhan keputusan. Pada tahap ini, seorang pemimpin harus mampu mengenali dan mengidentifikasi persoalan maupun peluang yang membutuhkan sebuah keputusan.

“Pengambilan keputusan yang matang dimulai dari kemampuan mengenali bahwa terdapat masalah atau peluang yang membutuhkan keputusan. Pemimpin harus mampu membaca situasi sebelum menentukan langkah berikutnya,” ujar Auliya saat memberikan materi.

Menggali Akar Permasalahan

Tahap kedua adalah diagnosis and analysis of causes, yakni melakukan diagnosis dan analisis terhadap penyebab permasalahan.

Menurut Auliya, pemimpin perlu melihat persoalan secara menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada gejala yang terlihat di permukaan. Analisis terhadap akar masalah menjadi bagian penting agar keputusan yang dihasilkan benar-benar menyelesaikan persoalan.

“Seorang pemimpin harus mampu membedakan antara masalah yang terlihat dengan akar penyebabnya. Tanpa diagnosis yang tepat, keputusan yang diambil berpotensi hanya menyelesaikan masalah sementara,” jelasnya.

Mengembangkan Berbagai Alternatif Solusi

Setelah persoalan dianalisis, tahap berikutnya adalah development of alternatives atau pengembangan berbagai alternatif.

Pada tahap ini, pemimpin dituntut untuk berpikir kreatif dengan menghasilkan sejumlah pilihan solusi yang dapat dipertimbangkan. Semakin banyak alternatif yang relevan, semakin besar peluang organisasi menemukan solusi yang paling sesuai dengan kondisi yang dihadapi.

“Kita harus kreatif dalam memunculkan berbagai opsi atau variasi solusi yang memungkinkan. Pemimpin tidak boleh terpaku hanya pada satu pilihan ketika menghadapi persoalan,” ungkap Auliya.

Menentukan Pilihan Terbaik

Tahap keempat adalah selection of desired alternative, yaitu memilih alternatif yang paling tepat.

Auliya menjelaskan, pemimpin perlu mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menentukan pilihan, termasuk efektivitas, efisiensi, sumber daya, risiko, serta dampak keputusan terhadap organisasi dan para pemangku kepentingan.

Proses tersebut membutuhkan kemampuan berpikir kritis dan strategis sehingga keputusan yang dipilih tidak hanya terlihat baik dalam jangka pendek, tetapi juga memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Keputusan Harus Diikuti Implementasi

Menurut Auliya, keputusan yang telah ditetapkan tidak akan memberikan manfaat apabila tidak diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Karena itu, tahap kelima, implementation of chosen alternative, menjadi bagian yang tidak kalah penting.

Pada tahap ini, keputusan harus diwujudkan melalui pelaksanaan program dengan dukungan sumber daya, pembagian tugas, serta strategi implementasi yang jelas.

“Rencana harus dieksekusi melalui tindakan nyata di lapangan dengan pengalokasian sumber daya yang tepat. Keputusan yang baik harus mampu diterjemahkan menjadi aksi,” tegasnya.

Evaluasi Menjadi Kunci Perbaikan

Tahap terakhir adalah evaluation and feedback atau evaluasi dan umpan balik.

Auliya menyampaikan bahwa evaluasi berfungsi sebagai mekanisme kontrol untuk melihat apakah keputusan yang telah dilaksanakan berjalan sesuai dengan target. Hasil evaluasi juga dapat menjadi bahan perbaikan untuk menentukan langkah selanjutnya.

Dengan adanya evaluasi dan umpan balik, organisasi dapat mengetahui kekuatan maupun kelemahan dari keputusan yang telah diambil serta melakukan penyesuaian apabila ditemukan kondisi yang tidak sesuai dengan rencana.

Baca Juga: Wakil Ketua Komisi I DPRD Provinsi Lampung, Bekali Mahasiswa Teknokrat Strategi Kepemimpinan Adaptif Menuju Indonesia Emas 2045, Pada kegiatan LEP 2026

Bekali Mahasiswa Menjadi Pemimpin Adaptif

Materi mengenai pengambilan keputusan tersebut menjadi bagian dari upaya Universitas Teknokrat Indonesia dalam membentuk mahasiswa yang memiliki kemampuan kepemimpinan secara komprehensif.

Melalui LEP 2026, mahasiswa tidak hanya dibekali pemahaman konseptual mengenai kepemimpinan, tetapi juga diarahkan untuk memiliki kemampuan berpikir strategis, menganalisis persoalan, berkomunikasi, bekerja sama, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia menyampaikan apresiasi terhadap antusiasme mahasiswa dalam mengikuti rangkaian program kepemimpinan tersebut. Menurutnya, kemampuan mengambil keputusan merupakan keterampilan yang akan terus digunakan mahasiswa ketika memasuki dunia profesional maupun ketika dipercaya memimpin organisasi dan masyarakat.

“Pemimpin masa depan harus mampu mengambil keputusan berdasarkan data, analisis, pertimbangan yang matang, dan nilai-nilai yang benar. Karena itu, mahasiswa perlu dilatih sejak dini agar tidak hanya berani mengambil keputusan, tetapi juga siap mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang dibuat,” ujar Auliya.

Mendukung Pembangunan Berkelanjutan

Penguatan kompetensi kepemimpinan melalui Leadership Education Program 2026 juga sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan, pengetahuan, karakter, serta kapasitas kepemimpinan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Kegiatan ini juga mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengembangan kompetensi mahasiswa agar lebih siap menghadapi dunia kerja dan mampu menjadi sumber daya manusia yang produktif, adaptif, serta memiliki kemampuan manajerial.

Selain itu, pembentukan pemimpin muda yang mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab turut berkontribusi terhadap SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, khususnya dalam mendorong lahirnya individu yang memiliki integritas, akuntabilitas, serta kemampuan mengelola organisasi secara efektif.

Universitas Teknokrat Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan program pengembangan mahasiswa yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga membangun karakter dan kompetensi kepemimpinan agar lulusan mampu menjadi penggerak perubahan serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.

Baca Juga: Leadership Education Program 2026: Assoc. Prof. Winardi Sani dari Universiti Tun Hussein Onn Malaysia Dorong Mahasiswa Bangun Kepemimpinan Berbasis Inovasi dan Kemanfaatan Bersama