PENDAFTARAN

Mahasiswa Teknokrat Hadirkan Inovasi PLTS untuk Nelayan Desa Tri Tunggal, Lampung Selatan

Bandar Lampung – Sore itu, para nelayan desa tri tunggal bersiap untuk melaut menangkap ikan. Termasuk kelompok Mang Mamat yang mempunyai 14 anggota, menatap cerah sambil menghidupkan perahunya.

Ketika matahari terbenam, sejumlah lampu sorot bertenaga generator diesel dinyalakan. Namun ada sorot lampu di salah satu bagan, tidak terdengar suara genset. Ternyata sekelompok nelayan ini menggunakan lampu penerangan sistem penerangan lampu bagan berbasis PLTS berkapasitas 200 Wp. Bagan ini milik kelompok Mang Mamat yang berjumlah 14 orang.

Baca Juga: Mahasiswa Teknokrat Serahkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Off Grid Sistem Pencahayaan Kumbung Jamur Pak Yoyok Bandar Lampung

Dalam wawancara pada Kamis, 16 Oktober 2025, Mang Mamat menjelaskan bahwa bantuan PLTS dari mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) sangat membantu nelayan Desa Tri Tunggal, Lampung Selatan.

“Cukup membantu, terutama mengurangi biaya pembelian bahan bakar pertalite untuk genset,” ujarnya.

Awalnya, para nelayan sulit menerima penggunaan energi baru terbarukan seperti PLTS. Namun, Novriansyah, mahasiswa UTI Lampung yang dibimbing dosennya, dengan sabar memberikan edukasi tentang manfaat panel surya sebagai sumber energi alternatif ramah lingkungan untuk penerangan dan radar kapal. Setelah diyakinkan, para nelayan pun bersedia mencoba, dan Novri bersama dosennya mulai merakit panel surya tersebut.

Hingga kini, Mang Mamat dan kelompoknya masih memanfaatkan tenaga surya untuk melaut. Di perairan Rangai Tri Tunggal Katibung terdapat sekitar 150 bagan, sebagian besar masih menggunakan genset, namun beberapa sudah beralih ke PLTS, termasuk motor jaring kepiting.

“Motor jaring kepiting lebih cocok menggunakan PLTS dibandingkan genset,” tambah Mang Mamat.

Terkait manfaatnya, ia menyebut penggunaan panel surya dapat memangkas biaya operasional. Biasanya, penggunaan genset membutuhkan sekitar Rp150.000 untuk bahan bakar per malam, namun dengan PLTS, pengeluaran tersebut bisa ditekan. Meski begitu, saat cuaca mendung seharian, nelayan masih memerlukan bantuan genset diesel.

Melihat manfaat besar dari listrik tenaga surya, para nelayan berharap kapasitas panel dapat diperbesar agar mampu menyalakan lebih banyak lampu, karena panel kecil hanya bisa menyalakan empat lampu penerangan.

Mengenai hasil tangkapan, Mang Mamat menjelaskan bahwa saat cuaca baik, pendapatan bisa mencapai Rp2–3 juta per malam, tetapi saat cuaca buruk, hasil tangkapan menurun hingga sekitar Rp1 juta. Karena kondisi laut sangat bergantung pada cuaca, kadang mereka tidak bisa melaut selama beberapa hari, dan harus mengandalkan hasil tangkapan sebelumnya untuk kebutuhan keluarga.

Ketika ditanya tentang strategi agar hasil tangkapan meningkat, Mang Mamat menjawab sederhana:

“Kami hanya bergotong royong, bersemangat, dan selalu berdoa sebelum berangkat.”

Dalam satu malam, bagan apung biasanya menjaring ikan dua hingga tiga kali dengan target tangkapan ikan pelagis seperti teri, cumi-cumi, layur, sotong, dan ikan embung.

Energi Terbarukan untuk Nelayan

Secara terpisah, Elka Pranita, S.Pd., M.T., Kepala Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer UTI, menyampaikan rasa bangganya terhadap karya inovatif mahasiswanya. Ia turun langsung membimbing proses pemasangan sistem PLTS di Desa Rangai Tri Tunggal Katibung, Lampung Selatan.

Menurut Elka, panel surya merupakan sumber energi alternatif ramah lingkungan yang dapat menyalakan lampu dan radar kapal, sekaligus menghemat biaya operasional nelayan. Sistem penerangan berbasis PLTS berkapasitas 200 Wp ini dipasang pada 3 Juli 2025 untuk mengatasi keterbatasan akses listrik di desa tersebut.

“Alhamdulillah, hasilnya sangat positif. Pengeluaran nelayan untuk membeli bensin genset bisa berkurang hingga puluhan ribu rupiah setiap malam,” jelas Elka.

Ia menambahkan, karya inovatif Novriansyah yang dituangkan dalam skripsinya ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UTI mampu menghadirkan solusi teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya nelayan.

“Kami berharap inovasi ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkreasi dan berkontribusi dalam pengembangan energi bersih yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Elka menegaskan bahwa UTI akan terus mendorong mahasiswa untuk menghadirkan inovasi yang berdampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.

“Apa yang dilakukan Novriansyah menjadi kontribusi nyata dalam mendukung pengembangan energi terbarukan di Indonesia serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya energi bersih dan ramah lingkungan,” pungkasnya.

#KampusBerdampak
#MahasiswaBerdampak
#DosenBerdampak