PENDAFTARAN

Mahasiswa Teknik Sipil Teknokrat Terjun ke Proyek Sekolah Rakyat Lampung Timur, Perkuat Kompetensi Industri di PT Brantas Abipraya

Bandar Lampung – Komitmen Universitas Teknokrat Indonesia dalam mewujudkan Kampus Berdampak terus diwujudkan melalui penguatan pengalaman belajar mahasiswa di dunia industri. Salah satunya dilakukan melalui program magang mahasiswa Program Studi S1 Teknik Sipil di PT Brantas Abipraya, khususnya pada Proyek Pembangunan Sekolah Rakyat Lampung Timur.

Baca Juga: BERDAMPAK !! Mahasiswa Terbaik Teknik Elektro Universitas Teknokrat Indonesia Hadirkan PJU Tenaga Surya dan Layanan Teknologi untuk Warga Lampung Selatan

Program magang tersebut berlangsung selama lebih dari tiga bulan, mulai 2 Maret hingga 13 Juni 2026, dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terlibat langsung dalam berbagai aktivitas proyek konstruksi bersama tenaga profesional di lapangan.

Tiga mahasiswa S1 Teknik Sipil Universitas Teknokrat Indonesia yang mengikuti program tersebut yakni Azzahra Salshabila, Indah Maya Sari, dan Dhiya Nasywa Luthfiyyah.

Kegiatan ini menjadi bagian penting dari proses pembelajaran berbasis pengalaman yang memungkinkan mahasiswa menghubungkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dengan kondisi nyata di dunia kerja.

Belajar Keselamatan Kerja dan Manajemen Proyek di Lapangan

Selama menjalani magang, ketiga mahasiswa tidak hanya melakukan observasi, tetapi juga terlibat dalam berbagai kegiatan rutin proyek.

Setiap pagi, mahasiswa mengikuti Safety Morning Toolbox Meeting (TBM) bersama pekerja sebelum aktivitas proyek dimulai. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memastikan seluruh personel memahami aspek keselamatan, potensi risiko pekerjaan, serta prosedur kerja yang harus dipatuhi.

Setiap Rabu, mahasiswa juga mengikuti Safety Talk yang diisi dengan berbagai materi dan pelatihan, antara lain pemasangan body harness, penggunaan alat pemadam api ringan (APAR), senam pagi, serta pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) lainnya.

Mahasiswa kemudian mengikuti Safety Patrol bersama tim HSE, QHSEE, pelaksana lapangan, dan petugas keamanan. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai temuan positif maupun potensi risiko di area proyek.

Temuan yang diperoleh selanjutnya ditindaklanjuti melalui QHSEE Meeting dan didokumentasikan dalam bentuk laporan menggunakan Microsoft Excel maupun PowerPoint.

Mendapat Pengalaman Berinteraksi dengan Profesional dan Pemangku Kepentingan

Bagi mahasiswa, pengalaman magang tersebut memberikan wawasan yang tidak sepenuhnya dapat diperoleh melalui pembelajaran di ruang kelas.

Azzahra Salshabila mengatakan, salah satu pengalaman yang paling berkesan selama mengikuti program magang adalah kesempatan memperoleh pengetahuan langsung mengenai dinamika proyek konstruksi serta berinteraksi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam pembangunan.

“Pengalaman paling berharga adalah bisa mendapatkan ilmu lapangan yang tidak ada di kelas. Kami juga diajak mengikuti rapat koordinasi bersama Kementerian PU dan bertemu dengan berbagai pihak, mulai dari Direksi PT Brantas Abipraya, Wali Kota Lampung Timur hingga Dinas Sosial,” ujar Azzahra.

Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana sebuah proyek konstruksi berskala besar dikelola melalui koordinasi berbagai pihak.

Mahasiswa Terlibat dalam Quality Control dan HSE

Pengalaman mahasiswa semakin lengkap karena mereka diberikan kesempatan untuk mengenal secara langsung pekerjaan Quality Control (QC) dan Health, Safety and Environment (HSE) di lingkungan proyek.

Indah Maya Sari, misalnya, memperoleh pengalaman dalam melakukan pengecekan kondisi struktur, termasuk mengidentifikasi kerusakan pada kolom dan balok serta memahami proses perbaikannya.

Selain itu, Indah turut membantu pembuatan dan pemasangan rambu-rambu K3 serta proses pembagian alat pelindung diri (APD) kepada pekerja.

Pengalaman tersebut membuat Indah memahami bahwa ketelitian merupakan salah satu aspek penting dalam pekerjaan konstruksi, khususnya ketika melakukan pemeriksaan kualitas struktur.

“Sebagai QC, saya belajar untuk lebih teliti dalam melakukan pengecekan struktur. Sebagai bagian dari tim HSE, saya juga belajar bahwa penerapan K3 sangat penting dalam setiap aktivitas proyek. Ini menjadi salah satu pengalaman terbaik selama saya kuliah,” ungkap Indah.

Mengenal Proses Konstruksi dari Awal hingga Tahap Penyelesaian

Sementara itu, Dhiya Nasywa Luthfiyyah mendapatkan kesempatan untuk melihat secara langsung proses pembangunan konstruksi berskala besar dari tahap awal hingga mendekati penyelesaian.

Selama berada di proyek, Dhiya mempelajari pentingnya koordinasi dan komunikasi antarpersonel dalam memastikan pekerjaan berjalan sesuai rencana.

Ia juga memperoleh pengalaman terkait manajemen proyek, inspeksi kualitas, serta berbagai pengujian material, termasuk CBR, Aksial, Lateral, dan PDA.

“Kami belajar bahwa koordinasi dan komunikasi itu sangat penting, bahkan untuk hal-hal kecil. Kami juga belajar manajemen proyek, inspeksi kualitas, serta pengujian material seperti CBR, Aksial, Lateral, dan PDA,” jelas Dhiya.

Selain itu, mahasiswa turut melakukan pemantauan pemasangan tiang pancang, menyusun laporan harian, mengisi laporan kondisi cuaca, serta mendampingi kegiatan survei untuk menentukan titik pemancangan bersama tim surveyor.

Berbagai aktivitas tersebut memberikan pengalaman komprehensif mengenai tahapan pekerjaan konstruksi dan mekanisme koordinasi yang diterapkan dalam proyek berskala besar.

Baca Juga: KAMPUS BERDAMPAK !! Universitas Teknokrat Indonesia dan University of Northern Philippines Kolaborasi Perkuat Literasi AI dan Transformasi Digital Pendidikan

Lingkungan Kerja Mendukung Pengembangan Kompetensi Mahasiswa

Ketiga mahasiswa mengaku mendapatkan lingkungan kerja yang sangat mendukung selama menjalani program magang di PT Brantas Abipraya.

Staf dan pekerja proyek dinilai terbuka dalam memberikan pengetahuan serta kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar dan terlibat dalam aktivitas lapangan.

Suasana kerja yang penuh kebersamaan juga membuat proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan memberikan pengalaman profesional yang berkesan bagi mahasiswa.

“Suasana kerja yang penuh kebersamaan membuat kegiatan di lapangan tidak membosankan. Bahkan kami juga diajak untuk bergabung di PT Brantas Abipraya setelah lulus nanti,” ujar Azzahra.

Pengalaman tersebut sekaligus membuka wawasan mahasiswa mengenai peluang karier di sektor konstruksi setelah menyelesaikan pendidikan.

Teknokrat Perkuat Konsep Kampus Berdampak melalui Pengalaman Industri

Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H. Mahathir Muhammad, S.E., M.M., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan mahasiswa S1 Teknik Sipil dalam menyelesaikan program magang di PT Brantas Abipraya, khususnya pada Proyek Pembangunan Sekolah Rakyat Lampung Timur.

Menurut Mahathir, keterlibatan mahasiswa dalam proyek nyata merupakan salah satu bentuk konkret implementasi semangat Kampus Berdampak yang terus dikembangkan Universitas Teknokrat Indonesia.

“Saya sangat mengapresiasi mahasiswa S1 Teknik Sipil Universitas Teknokrat Indonesia yang telah menyelesaikan magang di PT Brantas Abipraya, khususnya pada Proyek Sekolah Rakyat Lampung Timur. Ini adalah wujud nyata dari semangat Kampus Berdampak,” ujar Mahathir.

Ia menegaskan bahwa pembelajaran mahasiswa tidak seharusnya berhenti pada teori di ruang kelas. Pengalaman langsung di industri menjadi bagian penting dalam membentuk lulusan yang memiliki kompetensi teknis sekaligus memahami budaya dan tuntutan dunia kerja.

“Mahasiswa kami tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi langsung terjun ke lapangan, memahami proses konstruksi, manajemen proyek, hingga penerapan K3,” katanya.

Mahathir menilai pengalaman mahasiswa mengikuti Safety Talk, Safety Patrol, pengujian CBR dan PDA, hingga monitoring pemasangan tiang pancang merupakan bekal penting dalam membangun kompetensi profesional.

“Pengalaman seperti mengikuti Safety Talk, Safety Patrol, pengujian CBR, PDA, hingga monitoring tiang pancang adalah bekal berharga. Mereka juga belajar berinteraksi dengan Kementerian PU, direksi, hingga masyarakat,” tambahnya.

Ia berharap pengalaman tersebut dapat membentuk lulusan Teknik Sipil Universitas Teknokrat Indonesia yang tidak hanya menguasai ilmu konstruksi, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi, koordinasi, disiplin, tanggung jawab, dan kesadaran terhadap keselamatan kerja.

“Kami yakin, lulusan Teknik Sipil UTI akan menjadi insinyur yang siap kerja, siap membangun infrastruktur, dan siap memberikan dampak bagi Indonesia,” tegas Mahathir.

Pengalaman Magang Menjadi Bekal Menuju Dunia Profesional

Program magang tersebut menjadi pengalaman penting bagi Azzahra, Indah, dan Dhiya dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional.

Melalui keterlibatan langsung dalam proyek, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memahami bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya bergantung pada kemampuan teknis, tetapi juga membutuhkan kedisiplinan, komunikasi, koordinasi, ketelitian, kerja sama tim, serta kepatuhan terhadap standar keselamatan.

Ketiga mahasiswa berharap pengalaman yang diperoleh selama berada di Proyek Sekolah Rakyat Lampung Timur dapat menjadi bekal untuk mengembangkan karier setelah menyelesaikan pendidikan.

Mereka juga berharap pembangunan Sekolah Rakyat Lampung Timur dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pembelajaran yang Menghubungkan Kampus dan Dunia Industri

Program magang mahasiswa S1 Teknik Sipil Universitas Teknokrat Indonesia di PT Brantas Abipraya menunjukkan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten.

Pengalaman di lapangan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menguji pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan sekaligus memahami standar dan tantangan yang dihadapi tenaga profesional di sektor konstruksi.

Bagi Universitas Teknokrat Indonesia, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang adaptif, aplikatif, dan relevan dengan kebutuhan industri.

Melalui pembelajaran berbasis pengalaman, mahasiswa diharapkan mampu tumbuh menjadi lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga siap bekerja, mampu beradaptasi, memiliki kepedulian terhadap keselamatan, serta mampu memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan infrastruktur Indonesia.

Dengan demikian, pengalaman Azzahra Salshabila, Indah Maya Sari, dan Dhiya Nasywa Luthfiyyah di Proyek Pembangunan Sekolah Rakyat Lampung Timur menjadi salah satu gambaran nyata bagaimana semangat Kampus Berdampak diterapkan melalui keterhubungan antara pembelajaran di perguruan tinggi dan kebutuhan dunia industri.

Baca Juga: Rektor Teknokrat Pimpin Upacara HUT ke-81 RI di Universitas Teknokrat Indonesia, Kobarkan Semangat Kebangsaan dan Persatuan Generasi Muda

#PengabdianKepadaMasyarakat
#KampusBerdampak
#MahasiswaBerdampak
#DosenBerdampak