PENDAFTARAN
ID ID
EN EN

Mengapa Mahasiswa Harus Menguasai Artificial Intelligence di Era Digital? Universitas Teknokrat Indonesia Siapkan Talenta AI Bersama Dosen Pakar AI Ridwan Mahenra

Bandar Lampung – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan artifisial semakin mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, hingga mengembangkan berbagai inovasi. Teknologi yang sebelumnya banyak dipandang sebagai bagian dari masa depan kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan mulai memengaruhi kebutuhan kompetensi di dunia pendidikan maupun dunia kerja.

Baca Juga: TEMBUS NASIONAL !! Mahasiswa Terbaik Universitas Teknokrat Indonesia Jadi Finalis Cybersecurity Compfest 2026

Bagi generasi muda, kondisi tersebut membuat kemampuan memahami dan menggunakan AI semakin relevan. Menguasai AI tidak hanya berarti mampu menggunakan aplikasi berbasis kecerdasan buatan, tetapi juga memahami cara kerja teknologi, mengolah data, memanfaatkan AI secara produktif, melakukan verifikasi informasi, serta mempertimbangkan aspek etika dan keamanan dalam penggunaannya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) yang terus memperkuat pendidikan berbasis teknologi dan pengembangan talenta digital. Salah satunya melalui pengembangan bidang Artificial Intelligence yang didukung oleh dosen dan peneliti seperti Ridwan Mahenra, S.Kom., M.C.S.(AI).

AI Menjadi Salah Satu Kompetensi yang Semakin Dibutuhkan Dunia Kerja

Perubahan kebutuhan kompetensi tenaga kerja menjadi salah satu alasan mengapa mahasiswa perlu mulai memahami AI sejak berada di perguruan tinggi.

Dalam Future of Jobs Report 2025, World Economic Forum (WEF) menyebut AI and big data sebagai kelompok keterampilan yang diproyeksikan tumbuh paling cepat dalam tingkat kepentingannya hingga 2030. WEF juga mencatat bahwa pemberi kerja memperkirakan sekitar 39 persen keterampilan inti pekerja akan berubah atau menjadi usang pada periode 2025–2030.

Selain kemampuan teknis, WEF menempatkan kemampuan berpikir analitis, kreativitas, ketahanan, fleksibilitas, kemampuan beradaptasi, serta keingintahuan dan pembelajaran sepanjang hayat sebagai keterampilan yang tetap penting di tengah perkembangan teknologi. Dengan demikian, penguasaan AI idealnya tidak berdiri sendiri, tetapi dipadukan dengan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan manusia.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka perlu memahami bagaimana teknologi bekerja dan bagaimana menggunakannya untuk menghasilkan solusi, inovasi, maupun karya yang memiliki nilai tambah.

Sumber: World Economic Forum, The Future of Jobs Report 2025 – laporan yang memetakan perubahan kebutuhan keterampilan dan dunia kerja hingga 2030.

Menguasai AI Bukan Berarti Harus Menjadi Programmer

Salah satu kesalahpahaman yang masih sering muncul adalah anggapan bahwa AI hanya dapat dipelajari oleh mahasiswa bidang Informatika atau mahasiswa yang memiliki kemampuan pemrograman.

Padahal, pemanfaatan AI telah berkembang ke berbagai bidang, mulai dari pendidikan, kesehatan, bisnis, keuangan, komunikasi, pemasaran, industri kreatif, pertanian, hingga pelayanan publik.

Mahasiswa dari berbagai program studi dapat memanfaatkan AI sesuai dengan bidang keilmuannya. Mahasiswa pendidikan dapat menggunakan AI untuk mengembangkan media pembelajaran. Mahasiswa bisnis dapat memanfaatkannya untuk analisis pasar dan strategi pemasaran. Mahasiswa komunikasi dapat menggunakannya dalam analisis data dan produksi konten. Sementara mahasiswa bidang teknologi dapat mendalami aspek yang lebih teknis seperti machine learning, computer vision, natural language processing, deep learning, dan pengembangan model AI.

Karena itu, literasi AI semakin penting sebagai bagian dari kompetensi mahasiswa di berbagai disiplin ilmu.

Baca Juga: MEMBANGGAKAN !! Empat Dosen Universitas Teknokrat Indonesia Raih Insentif Video Pembelajaran Berbasis Riset, Peraih Terbanyak Kedua Nasional

AI Harus Digunakan Secara Cerdas, Kritis, dan Bertanggung Jawab

Di balik berbagai manfaatnya, penggunaan AI juga menghadirkan tantangan. Pengguna perlu memahami bahwa keluaran AI tidak selalu benar dan tetap membutuhkan proses pemeriksaan serta penilaian manusia.

UNESCO melalui Guidance for Generative AI in Education and Research menekankan pentingnya pendekatan yang berpusat pada manusia dalam pemanfaatan AI di bidang pendidikan. UNESCO juga menyoroti aspek validasi etis, keamanan, privasi data, serta penggunaan AI yang bermakna dalam proses pembelajaran dan penelitian.

Dengan demikian, kemampuan yang perlu dibangun mahasiswa bukan sekadar prompting, tetapi juga kemampuan memeriksa sumber, memahami konteks, melakukan verifikasi, menjaga integritas akademik, dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan manusia.

AI seharusnya menjadi alat untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan proses berpikir kritis.

Universitas Teknokrat Indonesia Perkuat Ekosistem Artificial Intelligence

Komitmen terhadap pengembangan AI juga terlihat dari keberadaan Center for Artificial Intelligence (CAI) di Universitas Teknokrat Indonesia.

CAI merupakan unit yang berfokus pada pengembangan Artificial Intelligence, termasuk pengembangan model, pemanfaatan machine learning dan deep learning, serta pengembangan talenta dan inovasi AI. Dalam struktur CAI, Ridwan Mahenra, S.Kom., M.C.S.(AI) tercatat sebagai Chief AI Officer (CAIO).

Keberadaan pusat pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya UTI untuk menghadirkan lingkungan akademik yang memungkinkan mahasiswa tidak hanya mengenal AI secara teoritis, tetapi juga melihat penerapannya dalam berbagai proyek dan permasalahan nyata.

Penguatan ekosistem tersebut menjadi semakin relevan ketika kebutuhan terhadap kompetensi teknologi terus berkembang.

Ridwan Mahenra, Dosen dan Pakar AI yang Mendorong Mahasiswa Mengenal Teknologi dari Dasar

Salah satu sosok yang aktif dalam pengembangan bidang AI di Universitas Teknokrat Indonesia adalah Ridwan Mahenra, S.Kom., M.C.S.(AI).

Ridwan merupakan dosen Universitas Teknokrat Indonesia dengan latar belakang Magister Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) dari Universitas Gadjah Mada. Berdasarkan profil SINTA, bidang kepakarannya mencakup Artificial Intelligence, Robotics, Computer Science, dan Computer Vision.

Dalam aktivitas akademik dan pengembangan teknologi, Ridwan terlibat dalam berbagai proyek AI, termasuk bidang Natural Language Processing (NLP), Computer Vision, dan Machine Learning. Profil profesionalnya juga mencatat pengalaman sebagai AI Engineer serta keterlibatan dalam pengembangan berbagai proyek berbasis kecerdasan buatan.

Kehadiran dosen dengan kompetensi khusus di bidang AI tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pembelajaran yang lebih dekat dengan perkembangan teknologi aktual.

Dari AI untuk Pendidikan hingga Pengembangan Inovasi

Pengembangan AI di Universitas Teknokrat Indonesia tidak hanya berhenti pada pembelajaran di kelas.

Ridwan Mahenra, misalnya, pernah memberikan edukasi mengenai pemanfaatan AI dalam ekosistem pembelajaran digital. Dalam kegiatan tersebut, ia menunjukkan bagaimana AI dapat digunakan untuk membantu guru merangkum materi, menyusun kerangka presentasi, serta mengembangkan sumber belajar digital.

Ia juga menekankan pentingnya memahami keterbatasan AI, termasuk kemungkinan munculnya informasi yang tidak akurat atau AI hallucination. Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah penggunaan sistem AI yang dapat diarahkan untuk menjawab berdasarkan sumber tertentu sehingga proses verifikasi informasi menjadi lebih terkontrol.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa AI dapat dipelajari dengan pendekatan yang aplikatif, bukan sekadar melalui teori.

Baca Juga: MEMBANGGAKAN !! Mahasiswi Teknokrat Wakili Lampung di Ajang Nasional Putri Hijabfluencer 2026

UTI Kembangkan Inovasi AI untuk Mendukung Pembelajaran

Universitas Teknokrat Indonesia juga telah mengembangkan berbagai inovasi berbasis AI untuk mendukung kegiatan akademik.

Salah satunya adalah AI Service Teknokrat, yang diperkenalkan sebagai layanan berbasis AI untuk membantu mahasiswa dan dosen dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Inovasi tersebut diinisiasi oleh Ridwan Mahenra dan dikembangkan sebagai bagian dari pemanfaatan AI di lingkungan kampus.

Selain itu, karya dan penelitian yang melibatkan Ridwan Mahenra juga tercatat dalam basis data SINTA, termasuk sejumlah aplikasi berbasis AI seperti Ngeliyak, Referfriend, dan Ngubah yang dikembangkan bersama peneliti lain dari Universitas Teknokrat Indonesia.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran AI di perguruan tinggi dapat diarahkan bukan hanya untuk memahami teknologi, tetapi juga menghasilkan produk dan solusi yang dapat dimanfaatkan.

Ridwan Mahenra Raih Pengakuan Internasional di Bidang AI

Pengembangan kompetensi AI di UTI juga didukung oleh kiprah dosennya di tingkat internasional.

Pada September 2026, Center of Excellence Artificial Intelligence Universitas Teknokrat Indonesia melaporkan bahwa Ridwan Mahenra memperoleh pengakuan sebagai salah satu “Top 20 Rising AI Leaders” dalam DMAT CONFEX Malaysia 2026.

Pengakuan tersebut diberikan atas kontribusinya dalam pengembangan dan penerapan Artificial Intelligence, khususnya pada bidang Computer Vision, Natural Language Processing (NLP), dan Edge AI.

Capaian tersebut menjadi bagian dari rekam jejak akademik dan profesional yang dapat memperkaya lingkungan pembelajaran AI di Universitas Teknokrat Indonesia.

Rektor: Mahasiswa Harus Menjadi Pengguna Sekaligus Pencipta Teknologi

Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H. M. Nasrullah Yusuf, S.E., M.B.A., menyampaikan bahwa perkembangan AI harus direspons dunia pendidikan dengan menyiapkan mahasiswa yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami dan mengembangkannya.

“Artificial Intelligence merupakan bagian penting dari transformasi teknologi yang harus dipahami generasi muda. Universitas memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan mahasiswa agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pencipta inovasi. Karena itu, kami terus mendorong penguatan pembelajaran, riset, dan pengembangan talenta di bidang AI,” ujar Nasrullah.

Menurutnya, penguasaan AI perlu disertai karakter, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi.

“Teknologi harus digunakan untuk memberikan manfaat. Kami ingin mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia memiliki kemampuan teknologi sekaligus karakter dan kepedulian untuk menciptakan solusi yang berdampak bagi masyarakat,” tambahnya.

Mahathir: Jangan Hanya Takut AI, Pelajari dan Manfaatkan

Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H. Mahathir Muhammad, S.E., M.M., menyampaikan bahwa perkembangan AI seharusnya menjadi momentum bagi mahasiswa untuk meningkatkan kompetensi.

Menurutnya, mahasiswa perlu melihat AI sebagai teknologi yang harus dipahami dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab.

“Mahasiswa tidak perlu hanya menjadi penonton dalam perkembangan Artificial Intelligence. Mereka harus mulai belajar, mencoba, memahami cara kerjanya, dan menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan. Yang paling penting adalah bagaimana AI dimanfaatkan secara cerdas, etis, dan produktif,” ujar Mahathir.

Ia menambahkan bahwa UTI terus membangun lingkungan akademik yang mendukung mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi teknologi melalui pembelajaran, penelitian, organisasi, kompetisi, dan berbagai proyek inovasi.

“Kami ingin mahasiswa Teknokrat memiliki keberanian untuk bereksperimen dan menghasilkan inovasi. Kehadiran dosen dan peneliti yang memiliki kompetensi AI menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem tersebut,” tambahnya.

Belajar AI di Kampus, Bukan Sekadar Menggunakan Aplikasi AI

Menguasai AI di perguruan tinggi memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mampu menggunakan aplikasi seperti chatbot atau generator gambar.

Mahasiswa perlu memahami setidaknya beberapa kompetensi utama, yaitu literasi AI, kemampuan menyusun instruksi atau prompt secara efektif, pemahaman data, berpikir kritis, verifikasi informasi, etika penggunaan AI, keamanan data, serta kemampuan mengintegrasikan AI dengan bidang keilmuan masing-masing.

Bagi mahasiswa yang ingin mendalami sisi teknis, kompetensi tersebut dapat dikembangkan lebih jauh menuju bidang machine learning, deep learning, computer vision, natural language processing, robotics, hingga edge AI.

Sementara bagi mahasiswa dari bidang nonteknologi, pemahaman AI dapat diarahkan pada pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas, analisis, kreativitas, komunikasi, penelitian, dan pemecahan masalah.

Dengan pendekatan tersebut, AI menjadi bagian dari kompetensi lintas disiplin yang dapat mendukung mahasiswa menghadapi perubahan dunia kerja.

Baca Juga: Gerilyana Tryo Putri Mahasiswa Teknokrat, Gelar Seminar Digital “Cyber Akhlak”, Dorong Etika Digital Jelang Ajang Nasional Putri Hijabfluencer 2026

Selaras dengan SDGs dan Kampus Berdampak

Pengembangan Artificial Intelligence di Universitas Teknokrat Indonesia juga memiliki keterkaitan dengan sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs).

SDG 4 – Pendidikan Berkualitas tercermin melalui pengembangan pembelajaran berbasis teknologi dan peningkatan kompetensi mahasiswa dalam menghadapi perkembangan digital.

SDG 8 – Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi berkaitan dengan penguatan keterampilan mahasiswa yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Perkembangan AI dan big data sendiri menjadi salah satu kelompok keterampilan yang diproyeksikan mengalami pertumbuhan paling cepat menurut World Economic Forum.

SDG 9 – Industri, Inovasi, dan Infrastruktur tercermin melalui pengembangan penelitian, produk, dan inovasi berbasis AI yang dapat diterapkan untuk menjawab berbagai persoalan.

Sementara SDG 17 – Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dapat diperkuat melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, sekolah, peneliti, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mengembangkan talenta serta ekosistem AI.

Saatnya Generasi Muda Belajar AI Bersama Teknokrat

Perkembangan AI akan terus bergerak. Karena itu, generasi muda yang saat ini sedang mempersiapkan diri memasuki dunia profesional perlu membangun kemampuan yang relevan sejak di bangku kuliah.

Universitas bukan hanya tempat memperoleh gelar, tetapi juga ruang untuk membangun kompetensi, mencoba teknologi, melakukan penelitian, mengikuti kompetisi, mengembangkan inovasi, dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja.

Universitas Teknokrat Indonesia menghadirkan lingkungan tersebut melalui pembelajaran berbasis teknologi, pengembangan pusat unggulan, kegiatan penelitian, serta dukungan dosen dan peneliti yang memiliki kompetensi di bidang Artificial Intelligence.

Kehadiran Ridwan Mahenra, S.Kom., M.C.S.(AI) sebagai dosen terbaik dan penggerak pengembangan AI di lingkungan UTI menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut. Bersama ekosistem AI yang terus dikembangkan, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengenal teknologi kecerdasan buatan dari konsep dasar hingga penerapannya dalam berbagai bidang.

Yuk, Kuliah dan Jadi Bagian dari Generasi Talenta AI!

Bagi siswa SMA, SMK, maupun sederajat yang ingin mempersiapkan diri menghadapi dunia digital dan perkembangan Artificial Intelligence, Universitas Teknokrat Indonesia membuka kesempatan untuk belajar, berkembang, berinovasi, dan membangun masa depan bersama lingkungan akademik yang berorientasi teknologi.

Jangan hanya menjadi pengguna AI. Pelajari cara kerjanya, kembangkan inovasinya, dan jadilah bagian dari generasi yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan solusi.

Ayo kuliah di Universitas Teknokrat Indonesia dan siapkan diri menjadi talenta masa depan yang menguasai teknologi, memiliki karakter, kreatif, adaptif, dan siap bersaing di tingkat nasional maupun global.

Universitas Teknokrat Indonesia – Kampus Sang Juara, tempat generasi muda belajar, berinovasi, dan berdampak.

Baca Juga: Sivitas Akademika Universitas Teknokrat Indonesia Rayakan Milad Rektor, Pemimpin Inspiratif Sang Juara, Dari Penjual Koran Hingga Dirikan Kampus Terbaik ASEAN

#ArtificialIntelligence
#DosenPakarAITeknokrat
#DosenTerbaikdiLampung
#KampusTerbaikdiLampung