Kunjungi Museum Pong Tiku, Mahasiswi Universitas Teknokrat Indonesia Dinda Indah Jelita Foto dengan Mumi, Gak Bahaya Tah?

Dinda Indah Jelita merasakan pengalaman baru lagi kala berkunjung ke Toraja pada 5-7 Januari 2024. Itu adalah bagian dari pelaksanaan Modul Nusantara bagian dari pertukaran mahasiswa merdeka (PMM).

Selama satu semester ini mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia itu kuliah di Universitas Fajar, Makassar.

Soal kunjungannya ke Toraja, kepada wartalampung.id, Dinda banyak bercerita. Berangkat pada 5 Januari 2024, Dinda dan teman-teman peserta PMM pada 6 Januari berkunjung ke salah satu museum yang ada di Toraja Utara, yaitu Museum Pong Tiku.

Di museum itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Toraja Utara Matius Sampelalong menjelaskan bangunan dan isinya dengan detail.

Dinda mengatakan, museum ini dibangun karena pemerintah Toraja Utara merasa perlu untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai Toraja.

Baca juga : Riset di Prancis, Dosen Universitas Teknokrat Indonesia Syaiful Ahdan Hasilkan Jurnal Reputasi Internasional

Selain itu, keberadaan museum ini dapat mendukung Toraja sebagai daerah kebudayaan dan pariwisata, serta menjadi media untuk melestarikan kebudayaan dan mengomunikasikannya kepada generasi selanjutnya.

Nama museum diambil dari pahlawan nasional perintis kemerdekaan dari Toraja yang bernama Pong Tiku.

Museum ini berada di bawah kepemilikan Pemerintah Daerah Kabupaten Toraja Utara dan dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toraja Utara.

Jenis koleksi yang dipamerkan di dalam museum berupa etnografika dan arkeologika. Museum Pong Tiku juga memiliki koleksi unggulan, yaitu mumi dan tautau.

Yang unik pada Museum Pong Tiku ini karena menyimpan tiga mumi atau jasad yang sudah diawetkan.

Mumi pertama adalah mumi perempuan. Kata Dinda masih kepada wartalampung.id lewat percakapan WhatsApp, sekilas ukurannya seperti anak-anak usia tiga tahunan. Namun, ternyata mumi ini adalah mumi wanita dewasa yang badannya menyusut.

Mumi pertama ini paling utuh karena muka masih terbentuk dan rambutnya yang masih ada.

Mumi kedua hampir menyerupai jenglot. Ukurannya sudah mengecil seperti boneka mainan. Akan tetapi, kata Dinda, mumi ini masih mempunyai rambut.

Mumi ketiga adalah mumi yang tinggal tengkorak. Sekadar informasi, ketiga mumi ini diselubungi kain merah dan biru serta disimpan di lemari pajangan kaca.

Kata Dinda, hanya dibuka bagian selubungnya oleh petugas jika ada pengunjung.

Karena unik ini, Dinda meminta seorang teman untuk memfotonya dengan latar belakang mumi itu. Buat Dinda, ini pengalaman yang sangat eksotik.

Kapan lagi bisa merasakan sensasi foto dengan latar demikian. Hmm tapi enggak bahaya tah? Hehehe.

Baca juga : Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Lolos Kampus Mengajar 7, Siap Kontribusi Terbaik

Dinda juga berfoto dengan spot menarik lain di museum ini. Dia tak ingin kehilangan kesempatan mengabadikan pemandangan dan dirinya dengan latar yang sarat budaya ini.

Dinda mengatakan, pengalaman dia mengikuti Modul Nusantara ini memang seru sekali. Banyak hal yang Dinda baru ketahui perihal Toraja ini.

Salah satu hal yang paling berkesan di Museum Pong Tiku ini, Dinda bisa melihat secara langsung mumi. Ternyata di Toraja juga ada tempat tempat khusus untuk menyimpan mayat bahkan sampai disimpan di dalam goa selama ratusan tahun.

“Soal yang mayat disimpan ratusan tahun di goa nanti aku cerita lagi deh,” ujarnya