Lebih Dekat dengan Shavina Lestiani Gadis New York dan Mahasiswi Berprestasi PTS Terbaik Sumatera Universitas Teknokrat Indonesia

Mahasiswi berprestasi Universitas Teknokrat Indonesia Shavina Lestiani sejak orok memang sudah akrab dengan bahasa Inggris. Betapa tidak. Gadis cantik ini sejak usia balita dibawa ke New York oleh ayah

dan ibunya.

Sang ayah yang bekerja sebagai koki menjadi sebab Shavina tinggal di negara Paman Sam itu. Wajar kalau penguasaan bahasa Inggrisnya sangat bagus.

Shavina mengatakan, selain memang kultur bahasa Inggris, ia juga rajin membaca, menonton, dan mendengar segala hal yang berkenaan dengan bahasa Inggris.

Maka, jika sekarang ia memilih Sastra Inggris sebagai pilihan kuliah di Teknokrat, ada narasi sejarah sebelumnya.

Shavina mengatakan, beda budaya pernah pula ia rasakan. Apalagi saat kembali di Tanah Air. Wabilkhusus ke Gerning, Tegineneng, Pesawaran, sebagai rumahnya di Lampung.

Dara cantik anak pertama dari dua bersaudara ini berkata, ia sempat mengalami adaptasi budaya kala pulang ke Tanah Air.

Karena berada di desa yang penduduknya ramah dan suka menyapa, awalnya Shavina kesulitan. Maklum, di Amerika Serikat, hal semacam itu tidak ai temukan.

“Aku awalnya paling susah kalau mesti menyapa tetangga. Apalagi yang enggak kenal. Mungkin disangka sombong,” kata perempuan kelahiran 24 Desember 2002 itu.

Shavina berujar, ia mempunyai cita-cita yang berkenaan dengan penulisan, seperti menjadi editor, novelis, komikus, dan sebagainya.

“Mungkin karena aku suka baca makanya pengen aja kerja di dunia yang tadi aku sebutin,” kata dia.

Aktivis di Teknokrat English Club itu menambahkan, ia sesekali menulis di buku diary-nya. Kebanyakan cerita-cerita kesehariannya.

Sejauh ini Shavina masih menyimpan narasi di buku diary. Ia belum tertarik untuk mengunggahnya ke aplikasi Watpad.

“Aku takut terpatok melihat jumlah yang baca. Padahal aku mau kualitasnya yang bagus,” ujarnya.

Translate »