PENDAFTARAN

Opini : Meta Fungsi Bahasa

  • By
  • 29 April

Bahasa digunakan sebagai sarana komunikasi untuk mengungkapkan arti dan maksud. Fitur-fitur yang digunakan oleh pembicara dapat memungkinkan pemahaman atas arti dan maksud tersebut.

Dengan bantuan fitur-fitur tersebut, pendengar atau pembaca dapat memahami makna dan tujuan yang ingin disampaikan. Jika ditelusuri lebih lanjut, fitur-fitur tersebut menjadi karakteristik yang khas dan membentuk fungsi bahasa.

Menurut pandangan Linguistik Sistemik Fungsional (LSF) atau Systemic Functional Linguistics (SFL), fungsi-fungsi tersebut membentuk sebuah kesatuan yang disebut dengan metafungsi.

Baca juga : Universitas Teknokrat Luncurkan Dosen A.I Pertama di Indonesia

Dalam penelitian, metafungsi ini dipelajari pada tingkat klausa atau kalimat. Kemudian, berdasarkan ciri-ciri (fitur-fitur) dari klausa tersebut, muncul tiga fungsi yang menjadi dasar terbentuknya metafungsi bahasa dengan tiga divisi, yaitu klausa sebagai representasi, klausa sebagai pertukaran, dan klausa sebagai pesan.

Kerangka teori yang pertama kali disusun oleh Halliday dan kemudian diperkuat oleh Matthiessen menjadi dasar yang sangat penting dalam penelitian Linguistik Sistemik Fungsional (LSF). Matthiessen adalah seorang rekan kerja yang merevisi buku Halliday, yaitu Introduction to Functional Grammar dan Halliday’s Introduction to Functional Grammar.

Terkait dengan fitur-fitur yang terdapat pada klausa dan fungsinya, metafungsi direalisasikan dalam tiga sistem, yaitu 1) sistem transitivitas (Transitivity System) yang merepresentasikan klausa sebagai representasi, 2) sistem modus dan residu (Mood and Residue System) yang merepresentasikan klausa sebagai pertukaran, dan 3) sistem tema-rema (Theme and Rheme System) yang merepresentasikan klausa sebagai pesan.

Selain itu, ketiga sistem metafungsi tersebut saling berinteraksi dalam pembentukan makna dan maksud dalam konteks penggunaannya di dalam bahasa, baik dalam situasi maupun konteks sosial tertentu. Hal ini dikarenakan unsur-unsur gramatika tertentu berperan dalam metafungsi ideasional, sementara unsur yang berbeda terwujud pada tipe metafungsi yang lain.

Dalam konteks komunikasi antara pembicara, metafungsi memiliki arti bahwa fungsi-fungsi bahasa dalam interaksi sosial saling terkait dan terintegrasi pada tataran ekspresi, leksikogramatika, semantik, dan konteks.

Penggunaan bahasa pada tataran ekspresi, leksikogramatika, semantik, dan konteks saling terhubung satu sama lain. Keempat tataran tersebut berperan dalam membentuk instansiasi pada konteks metafungsi tertentu.

Instansiasi adalah bentuk atau pola yang mencirikan suatu penggunaan bahasa pada tingkat klausa dan dibedakan berdasarkan fungsi dalam konteks sosial tertentu.

Fungsi-fungsi bahasa tersebut saling berkaitan dan memiliki sistematisasi. Konsep ini menjadi dasar kerangka teori Linguistik Sistemik Fungsional dan mendapat dukungan dari ahli bahasa (linguist) lainnya yang mengembangkannya.

Baca juga : Universitas Teknokrat Indonesia Siap Menuju Era Pendidikan Baru dengan Kampus Berbasis Artificial Intelligence

Dengan begitu, muncul berbagai istilah baru seperti 1) konfigurasi metafungsi yang terdiri dari tiga komponen fungsi, yaitu eksperiensial (experiential), interpersonal (interpersonal), dan tekstual (textual), dan 2) realisasi metafungsi melalui pilihan leksikogramatikal. Dalam hal ini, metafungsi eksperiensial direalisasikan melalui pilihan transitivitas (Transitivity choice), metafungsi interpersonal direalisasikan melalui pilihan Modus (Mood choice), dan metafungsi tekstual direalisasikan melalui pilihan Tema (Theme choice). Semua fungsi tersebut saling terintegrasi dan sistematis, dan merupakan landasan kerangka teori Linguistik Sistemik Fungsional. Para ahli bahasa (linguis) lain juga mendukung dan mengembangkannya.

Jika dianalisis lebih lanjut, apakah teori ini dapat diterapkan pada bahasa lain selain bahasa Inggris, mengingat teori ini awalnya dikembangkan berdasarkan bahasa Inggris.

Teori ini dapat diterapkan pada bahasa lain, tidak hanya bahasa Inggris sebagai bahasa asal teori ini. Bahasa daerah seperti bahasa Lampung di Indonesia juga bisa dipelajari melalui pendekatan metafungsi bahasa. Oleh karena itu, tulisan ini juga mengajak untuk berkolaborasi dalam penelitian bahasa daerah menggunakan kerangka teori Linguistik Sistemik Fungsional. Mari menjaga dan mempelajari keanekaragaman bahasa daerah.