Bandar Lampung – Suasana Gelanggang Mahasiswa Dr. HM. Nasrullah Yusuf Universitas Teknokrat Indonesia mendadak semarak dan penuh antusiasme saat aktris ternama Indonesia, Nirina Zubir, bersama aktor muda berbakat Saputra Kori hadir dalam kegiatan Deep Talk sekaligus promosi film drama keluarga terbaru berjudul Jangan Buang Ibu.
Kehadiran kedua pemeran utama film tersebut berhasil menarik perhatian ratusan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta sivitas akademika Universitas Teknokrat Indonesia yang memadati area gelanggang mahasiswa. Sejak acara dimulai, suasana berlangsung hangat, interaktif, dan penuh semangat.
Gemuruh tepuk tangan dan sorakan antusias peserta bahkan menggema memenuhi ruangan ketika Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H. Mahathir Muhammad, S.E., M.M., memberikan sambutan pembuka. Antusiasme luar biasa yang ditunjukkan peserta membuat jajaran pimpinan kampus merasa bangga sekaligus terkesan dengan tingginya apresiasi masyarakat Lampung terhadap karya perfilman nasional.
“Respons publik Lampung terhadap film ini sangat luar biasa. Ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki perhatian besar terhadap karya seni dan industri kreatif nasional, khususnya film yang sarat nilai edukatif dan pesan moral,” ujar Mahathir.
Menurutnya, kegiatan semacam ini menjadi wadah positif untuk mempertemukan dunia pendidikan dengan industri kreatif nasional. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga memperoleh inspirasi, wawasan, serta pembelajaran dari para pelaku industri perfilman Indonesia.
Dalam sesi diskusi, Nirina Zubir dan Saputra Kori berbagi pengalaman selama proses produksi film Jangan Buang Ibu. Keduanya menceritakan berbagai tantangan yang dihadapi selama pendalaman karakter hingga proses syuting yang penuh emosi.
Film produksi Leo Pictures yang disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu tersebut mengangkat kisah Ristiana, seorang ibu tunggal yang diperankan oleh Nirina Zubir. Tokoh ini digambarkan sebagai sosok ibu yang berjuang keras membesarkan ketiga anaknya setelah ditinggalkan sang suami.
Konflik mulai muncul ketika keluarga tersebut harus menghadapi beban utang yang besar. Seiring berjalannya waktu, anak-anak yang telah tumbuh dewasa dan meraih kesuksesan justru perlahan menjauh dari ibunya akibat tuntutan kehidupan modern. Kondisi tersebut membawa penonton pada perjalanan emosional yang menyentuh tentang kasih sayang, pengorbanan, dan pentingnya bakti kepada orang tua.
Salah satu daya tarik utama film ini adalah totalitas akting Nirina Zubir dalam memerankan karakter Ristiana di usia senja. Demi mendapatkan tampilan yang realistis, Nirina menjalani proses penggunaan riasan prostetik hingga empat jam setiap hari selama proses syuting.
Transformasi tersebut berhasil menghadirkan sosok ibu yang kuat, penuh pengorbanan, namun menyimpan luka batin yang mendalam. Tidak mengherankan jika film ini diprediksi menjadi salah satu drama keluarga yang menyentuh hati penonton Indonesia pada tahun 2026.
Selain menjadi ajang promosi film, kegiatan Deep Talk juga menghadirkan diskusi mengenai nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam cerita film. Para mahasiswa diajak untuk merefleksikan kembali pentingnya menjaga hubungan dengan orang tua di tengah kesibukan dan tuntutan kehidupan modern.
Saputra Kori menjelaskan bahwa film ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah pengingat bagi generasi muda agar tidak melupakan jasa dan pengorbanan orang tua.
“Film ini mengajarkan bahwa kasih sayang orang tua tidak pernah memiliki batas waktu. Kami berharap pesan yang ada dalam film ini dapat menyentuh hati masyarakat dan menjadi bahan refleksi bersama,” ujarnya.
Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. HM. Nasrullah Yusuf, S.E., M.B.A., menyambut baik terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran insan perfilman nasional di lingkungan kampus memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat industri kreatif yang terus berkembang di Indonesia.
“Kami sangat mengapresiasi kehadiran Nirina Zubir dan Saputra Kori di Universitas Teknokrat Indonesia. Kegiatan seperti ini memberikan wawasan baru kepada mahasiswa tentang dunia industri kreatif sekaligus memperkaya pengalaman belajar mereka di luar ruang kelas. Kampus harus menjadi ruang yang terbuka bagi kolaborasi antara dunia pendidikan, seni, budaya, dan industri,” ujar Nasrullah Yusuf.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H. Mahathir Muhammad, S.E., M.M., menilai bahwa film Jangan Buang Ibu memiliki pesan moral yang sangat relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini.
“Kami berharap mahasiswa dapat mengambil pelajaran berharga dari film ini, terutama mengenai pentingnya menghargai perjuangan orang tua, menjaga nilai-nilai kemanusiaan, serta membangun karakter yang kuat dalam kehidupan sehari-hari,” kata Mahathir.
Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan film Jangan Buang Ibu, karya tersebut dijadwalkan tayang serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia, termasuk Cinema XXI, CGV, dan Cinepolis, mulai 25 Juni 2026.
Melalui cerita yang kuat, akting yang emosional, serta pesan moral yang mendalam, film ini diharapkan mampu menjadi pengingat bagi setiap anak tentang arti kasih sayang, pengorbanan, dan penghormatan kepada orang tua yang tidak akan pernah lekang oleh waktu.
Kegiatan promosi dan diskusi film di Universitas Teknokrat Indonesia ini sekaligus menunjukkan komitmen kampus dalam menghadirkan berbagai kegiatan inspiratif yang memperkaya wawasan mahasiswa, tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam aspek karakter, budaya, dan kehidupan sosial.