Bandar Lampung – Rasa haru dan bangga dirasakan Gerilyana Tryo Putri, mahasiswa Program Studi S1 Informatika Universitas Teknokrat Indonesia, setelah dipercaya menjadi petugas pembawa baki dalam upacara pengibaran Bendera Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan kampus Universitas Teknokrat Indonesia.
Bagi Gerilyana, kepercayaan tersebut bukan sekadar tugas dalam sebuah prosesi upacara. Pengalaman membawa baki bendera menjadi momentum yang sarat makna, sekaligus bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan jiwa dan raga demi kemerdekaan Indonesia.
Gerilyana mengaku menjalankan tugas tersebut dengan perasaan haru dan penuh tanggung jawab. Baginya, Bendera Merah Putih merupakan simbol perjuangan bangsa yang harus dihormati dan dijaga maknanya oleh generasi penerus.
“Bagi saya, menjadi petugas pengibar bendera Merah Putih dalam rangka kemerdekaan Republik Indonesia ini bukan hanya tentang memegang bendera secara fisik. Ini adalah simbol dari doa dan tetesan darah perjuangan para pahlawan kita,” ungkap Gerilyana usai pelaksanaan upacara.
Ia menilai kesempatan tersebut menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Kepercayaan yang diberikan kepadanya juga menjadi pengingat bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan semangat perjuangan melalui pendidikan, prestasi, dan kontribusi positif bagi bangsa.
Keberhasilan pelaksanaan tugas sebagai petugas pembawa baki tidak diperoleh secara instan. Gerilyana bersama 23 mahasiswa terbaik lainnya yang tergabung dalam pasukan pengibar bendera menjalani persiapan dan latihan intensif selama kurang lebih satu minggu.
Latihan dilakukan dengan mengedepankan kedisiplinan, ketepatan gerakan, kekompakan, konsentrasi, serta tanggung jawab setiap anggota. Proses tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan seluruh rangkaian pengibaran Bendera Merah Putih dapat berlangsung dengan tertib dan khidmat.
“Alhamdulillah, dengan persiapan kurang lebih seminggu, saya bersama 23 teman-teman mempersiapkan semua ini. Alhamdulillah kami dapat melaksanakannya dengan penuh hikmat, dan Sang Merah Putih berhasil dikibarkan dengan sangat lancar,” ujar Gerilyana.
Menurutnya, pengalaman selama menjalani latihan memberikan pelajaran penting mengenai arti kerja sama. Setiap anggota memiliki tugas masing-masing, tetapi keberhasilan keseluruhan prosesi sangat bergantung pada kekompakan seluruh tim.
Gerilyana bukan sosok yang asing dengan aktivitas pengembangan diri dan kepemimpinan mahasiswa. Selain berstatus sebagai mahasiswa S1 Informatika, ia juga merupakan Juara I Duta Universitas Teknokrat Indonesia 2024.
Latar belakang tersebut membuat Gerilyana memiliki perhatian terhadap perkembangan teknologi digital dan peran generasi muda dalam menghadapi perubahan zaman.
Sebagai mahasiswa bidang informatika, ia melihat perkembangan artificial intelligence (AI) bukan semata-mata sebagai tantangan, tetapi juga sebagai peluang yang dapat dimanfaatkan secara positif oleh generasi muda.
Menurut Gerilyana, pemanfaatan AI secara tepat dapat membantu generasi muda memperluas wawasan dan memperoleh informasi secara lebih cepat. Namun, pemanfaatannya tetap harus diiringi dengan kemampuan berpikir kritis dan tanggung jawab.
“Penggunaan AI bagi generasi muda untuk mencapai Generasi Emas memberikan dampak yang sangat positif. Terutama dalam memanfaatkan teknologi untuk menggali dan mencari informasi yang lebih luas,” jelas Gerilyana.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa penguasaan teknologi perlu berjalan beriringan dengan karakter dan etika. Teknologi, termasuk AI, akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila digunakan untuk mendukung proses belajar, kreativitas, produktivitas, serta penyelesaian berbagai persoalan di masyarakat.
Komitmen Gerilyana terhadap pemanfaatan teknologi secara positif tidak berhenti pada gagasan. Ia turut mendirikan Cyber Akhlak, sebuah gerakan edukasi digital yang berfokus pada peningkatan literasi digital generasi muda.
Melalui gerakan tersebut, Gerilyana bersama para penggerak muda memberikan edukasi kepada pelajar dari berbagai jenjang, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas.
Materi yang diberikan berfokus pada bagaimana generasi muda dapat menggunakan media sosial dan teknologi digital secara bijak, aman, bertanggung jawab, serta tetap menjunjung nilai-nilai etika.
“Saya mengimplementasikannya secara nyata sebagai founder dari Cyber Akhlak. Kami membentuk penggerak edukasi untuk merangkul teman-teman dari tingkat SD, SMP, hingga SMA. Fokus kami adalah mengedukasi mereka tentang bagaimana cara menggunakan media sosial dan teknologi digital dengan bijak,” tutur Gerilyana.
Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H. Mahathir Muhammad, S.E., M.M., memberikan apresiasi atas prestasi dan kiprah Gerilyana yang dinilai mencerminkan karakter mahasiswa yang aktif, berprestasi, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Menurut Mahathir, kepercayaan kepada Gerilyana sebagai pembawa baki dalam upacara HUT ke-81 RI menjadi salah satu bentuk penghargaan terhadap mahasiswa yang mampu menunjukkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan keteladanan.
“Kami bangga atas pencapaian Gerilyana. Ia menunjukkan bahwa mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia dapat berkembang tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam kepemimpinan, kegiatan kebangsaan, dan kontribusi sosial. Semangat tersebut perlu terus dipelihara dan dikembangkan,” ujar Mahathir.
Ia juga mengapresiasi kepedulian Gerilyana terhadap literasi digital melalui Cyber Akhlak. Menurutnya, kemampuan teknologi akan semakin bermakna ketika diikuti dengan karakter, etika, dan kepedulian terhadap masyarakat.
“Generasi muda harus mampu menguasai teknologi sekaligus memiliki akhlak dan tanggung jawab dalam menggunakannya. Inilah karakter mahasiswa yang kami harapkan, yaitu unggul dalam kompetensi, memiliki integritas, dan mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan,” tambahnya.
Kisah Gerilyana Tryo Putri memperlihatkan bagaimana semangat kebangsaan dan penguasaan teknologi dapat berjalan beriringan.
Di satu sisi, ia menunjukkan penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa melalui tugas sebagai pembawa baki dalam upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Di sisi lain, sebagai mahasiswa Informatika dan penggerak Cyber Akhlak, ia mengambil peran dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi perkembangan teknologi digital.
Kombinasi tersebut menjadi gambaran penting mengenai karakter generasi muda yang dibutuhkan Indonesia. Generasi penerus tidak hanya dituntut menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki nasionalisme, karakter, etika, kepedulian sosial, serta kemampuan menggunakan teknologi untuk tujuan yang konstruktif.
Kiprah Gerilyana dan dukungan Universitas Teknokrat Indonesia terhadap pengembangan kompetensi mahasiswa juga memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penguatan literasi, kompetensi, dan pembelajaran sepanjang hayat.
Edukasi mengenai pemanfaatan teknologi dan media sosial secara bijak juga berkontribusi terhadap terciptanya masyarakat yang lebih literat secara digital. Sementara pengembangan keterampilan teknologi, kepemimpinan, kreativitas, dan kewirausahaan generasi muda turut mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pemanfaatan teknologi secara inovatif dan bertanggung jawab.
Melalui sosok Gerilyana Tryo Putri, Universitas Teknokrat Indonesia kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk mahasiswa terbaik yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan teknologi, tetapi juga mampu menjadi teladan, penggerak literasi, serta bagian dari generasi muda yang siap memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia.
Menghormati perjuangan masa lalu, menguasai teknologi masa kini, dan menyiapkan masa depan Indonesia.