Bandar Lampung – Kemampuan menyampaikan gagasan secara efektif menjadi salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki calon pemimpin. Hal tersebut menjadi perhatian dalam Leadership Education Program (LEP) 2026) Universitas Teknokrat Indonesia, melalui pembekalan teknik presentasi kepada mahasiswa peserta program Leadership Education Program.
Dalam kegiatan yang berlangsung di Gelanggang Mahasiswa Dr. HM. Nasrullah Yusuf, Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. Lia Febria Lina, S.E., M.Sc., Dosen Terbaik di Lampung yang juga sebagai Dosen Tetap FEB Teknokrat, hadir sebagai pemateri dan membagikan strategi praktis untuk membangun presentasi yang efektif, komunikatif, dan mampu menarik perhatian audiens.
Materi tersebut dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan komunikasi publik yang dapat diterapkan dalam kegiatan organisasi, lingkungan akademik, maupun dunia profesional.
Dalam pemaparannya, Dr. Lia mengingatkan peserta bahwa keberhasilan presentasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas materi, tetapi juga bagaimana seorang presenter membangun komunikasi dengan audiens.
Ia mengidentifikasi sejumlah kesalahan yang masih sering terjadi ketika seseorang melakukan presentasi. Di antaranya adalah kurangnya kontak mata dengan audiens, berbicara terlalu cepat, serta tidak mampu membangun pembukaan dan penutupan yang kuat.
Kesalahan lain yang perlu dihindari adalah presenter terlalu bergantung pada salindia atau slide. Materi presentasi yang dipenuhi teks juga dinilai dapat mengurangi efektivitas komunikasi karena audiens cenderung sibuk membaca daripada mendengarkan penjelasan presenter.
Menurut Dr. Lia, salindia seharusnya berfungsi sebagai media pendukung, bukan menjadi naskah yang dibacakan secara penuh oleh presenter.
“Belajarlah menyampaikan gagasan dengan suara yang teratur, intonasi yang tegas dan jelas, serta memberikan penguatan pelafalan pada bagian pembukaan dan penutupan presentasi,” ujar Dr. Lia.
Dr. Lia menekankan bahwa kepercayaan diri seorang presenter akan tumbuh ketika ia benar-benar memahami materi yang disampaikan.
Karena itu, peserta didorong untuk terlebih dahulu menguasai konten fundamental sebelum mempersiapkan teknik penyampaian. Pemahaman yang baik terhadap materi akan membuat presenter lebih fleksibel dalam menjawab pertanyaan, menanggapi respons audiens, serta menyesuaikan cara penyampaian dengan situasi di lapangan.
Menurutnya, presentasi yang baik bukan sekadar kemampuan berbicara di depan banyak orang, tetapi kemampuan mengubah gagasan menjadi pesan yang dapat dipahami dan diingat oleh audiens.
Untuk membantu mahasiswa mengatur alur presentasi, Dr. Lia memperkenalkan formula pembagian waktu 20 persen untuk pembukaan, 60 persen untuk penyampaian isi, dan 20 persen untuk penutupan.
Bagian pembukaan harus dimanfaatkan untuk membangun perhatian audiens sekaligus memberikan gambaran mengenai topik yang akan dibahas. Sementara itu, porsi terbesar diberikan kepada substansi utama agar pesan yang disampaikan dapat diterima secara optimal.
Pada bagian penutupan, presenter perlu memberikan penegasan terhadap gagasan utama sekaligus meninggalkan kesan yang kuat kepada audiens.
Formula tersebut dapat menjadi panduan sederhana bagi mahasiswa agar presentasi tidak kehilangan arah dan mampu disampaikan secara proporsional sesuai waktu yang tersedia.
Selain aspek verbal, Dr. Lia juga memberikan sejumlah tips praktis untuk meningkatkan performa mahasiswa ketika berada di hadapan audiens.
Peserta didorong untuk menjaga kontak mata, memperhatikan kekuatan dan kualitas suara, menampilkan senyum yang natural, serta menggunakan gestur tubuh yang mendukung pesan.
Pergerakan tubuh juga perlu dilakukan secara dinamis dan proporsional. Presenter sebaiknya tidak terlalu kaku, tetapi juga tidak melakukan gerakan berlebihan yang justru mengganggu konsentrasi audiens.
Di atas seluruh teknik tersebut, kepercayaan diri menjadi salah satu faktor utama. Presenter yang percaya diri akan lebih mampu membangun hubungan dengan audiens dan menyampaikan gagasan secara meyakinkan.
Dr. Lia menilai kemampuan presentasi semakin penting di era komunikasi yang serba cepat. Dalam organisasi, seorang pemimpin harus mampu menyampaikan visi, menjelaskan program, memberikan arahan, melakukan negosiasi, serta meyakinkan anggota dan pemangku kepentingan.
Karena itu, kemampuan berbicara di depan publik tidak seharusnya dipandang hanya sebagai keterampilan tambahan, melainkan sebagai salah satu kompetensi strategis bagi calon pemimpin.
“Teknik presentasi saat ini sudah menjadi kebutuhan penting, khususnya bagi seorang pemimpin di setiap lini organisasi. Pemimpin harus mampu menyampaikan gagasan secara jelas agar dapat dipahami dan menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan bersama,” jelasnya.
Melalui sesi tersebut, mahasiswa peserta LEP 2026 juga didorong untuk membangun berbagai kompetensi pendukung kepemimpinan.
Dr. Lia menyebut sejumlah kemampuan yang penting dikembangkan oleh calon pemimpin, antara lain pemikiran analitis, pemikiran kreatif, kepemimpinan, pengaruh sosial, empati, resiliensi atau ketahanan, serta rasa ingin tahu yang tinggi.
Kombinasi berbagai kompetensi tersebut diharapkan mampu membentuk pemimpin muda yang tidak hanya mampu berbicara dengan baik, tetapi juga mampu memahami persoalan, menghasilkan solusi, membangun hubungan dengan orang lain, serta bertahan menghadapi berbagai tantangan.
Kemampuan komunikasi yang kuat juga akan membantu mahasiswa dalam menjalankan peran sebagai pengurus organisasi kemahasiswaan. Dengan komunikasi yang efektif, proses koordinasi, penyampaian program kerja, kerja sama tim, hingga penyelesaian konflik dapat dilakukan secara lebih baik.
Pembekalan teknik presentasi dalam LEP 2026 menjadi bagian dari komitmen Universitas Teknokrat Indonesia untuk memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih luas kepada mahasiswa.
Kompetensi komunikasi publik yang diperoleh mahasiswa tidak hanya dapat digunakan selama berada di lingkungan kampus, tetapi juga menjadi bekal ketika memasuki dunia kerja dan dunia profesional.
Kemampuan melakukan presentasi, memimpin diskusi, melakukan negosiasi, serta menyampaikan ide secara persuasif merupakan keterampilan yang dibutuhkan di berbagai bidang pekerjaan.
Dengan demikian, LEP 2026 tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan mahasiswa yang aktif dalam organisasi, tetapi juga calon lulusan yang memiliki kesiapan menghadapi tuntutan profesional dan perubahan lingkungan kerja.
Kegiatan pembekalan teknik presentasi dalam Leadership Education Program 2026 turut berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas). Penguatan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, berpikir kritis, dan kreativitas merupakan bagian dari pengembangan kompetensi mahasiswa secara menyeluruh.
Kegiatan ini juga relevan dengan SDG 8: Decent Work and Economic Growth (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pengembangan keterampilan komunikasi dan kepemimpinan yang dibutuhkan dalam dunia kerja.
Selain itu, kemampuan membangun komunikasi yang efektif, menghargai perspektif orang lain, mengembangkan empati, serta memengaruhi secara positif turut mendukung pembentukan generasi muda yang mampu berkontribusi dalam membangun organisasi dan masyarakat yang inklusif.
Melalui LEP 2026, Universitas Teknokrat Indonesia terus memperkuat ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, keterampilan komunikasi, kepemimpinan, dan kesiapan mahasiswa menjadi generasi yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.
#KampusBerdampak
#KampusTerbaikdiLampung
#LeadershipEducationProgram