ID
EN
Bandar Lampung – Universitas Teknokrat Indonesia Kampus Berdampak Terbaik di Lampung kembali memperkuat pendidikan karakter dan kebangsaan bagi mahasiswa baru melalui rangkaian Program Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Sang Juara 2026. Bekerja sama dengan Kepolisian Daerah (Polda) Lampung, Universitas Teknokrat Indonesia menghadirkan kuliah umum yang membahas sejumlah isu strategis bagi generasi muda, mulai dari pencegahan narkoba, antikorupsi, antiterorisme, pencegahan kekerasan, hingga penggunaan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.
Kegiatan tersebut diikuti ribuan mahasiswa baru Universitas Teknokrat Indonesia sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter, integritas, kedisiplinan, serta kepedulian sosial.
Kuliah umum tersebut mengangkat materi “Sosialisasi Anti Narkoba, Anti Korupsi, Anti Terorisme dan Bijak Bermedia Sosial” serta “Membangun Budaya Anti Korupsi: Dari Kesadaran, Integritas, hingga Tindakan Nyata.”
Materi tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai berbagai bentuk ancaman yang dapat memengaruhi kehidupan pribadi, lingkungan kampus, maupun masa depan generasi muda.
Mahasiswa juga diajak memahami bahwa membangun karakter bukan hanya persoalan mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi membutuhkan keberanian untuk mengambil keputusan yang bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa baru diharapkan memiliki bekal untuk menciptakan lingkungan perkuliahan yang aman, sehat, berintegritas, serta bebas dari narkotika, kekerasan, dan berbagai bentuk perilaku koruptif.
Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H. Mahathir Muhammad, S.E., M.M., mengapresiasi kolaborasi antara Universitas Teknokrat Indonesia dan Polda Lampung dalam memberikan pendidikan karakter kepada mahasiswa baru.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membangun mahasiswa secara menyeluruh. Keunggulan akademik dan penguasaan teknologi perlu berjalan beriringan dengan karakter, integritas, dan tanggung jawab sosial.
“Universitas Teknokrat Indonesia berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik dan teknologi, tetapi juga memiliki integritas yang kuat. Kuliah umum bersama Polda Lampung ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa baru agar berani menolak narkoba, menolak korupsi, mencegah kekerasan, serta bijak dalam menggunakan media sosial,” ujar Mahathir.
Ia menambahkan, nilai-nilai tersebut merupakan bagian penting dari karakter mahasiswa yang ingin tumbuh menjadi generasi berprestasi sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“Menjadi Sang Juara bukan hanya tentang prestasi, tetapi juga tentang karakter. Karena itu, keberanian untuk berkata tidak terhadap hal-hal yang merusak masa depan dan keberanian untuk melakukan hal yang benar harus ditanamkan sejak mahasiswa memasuki lingkungan perguruan tinggi,” tambahnya.
Dalam sesi mengenai pencegahan narkoba, mahasiswa mendapatkan pemaparan dari Rizky Pujiantho, S.H., M.H., Kasubbag Minopsnal Ditresnarkoba Polda Lampung.
Dalam paparannya, ia menyampaikan data mengenai penyalahgunaan narkoba di Provinsi Lampung yang menjadi perhatian serius. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, jumlah penyalahguna narkoba di Lampung mencapai 89.046 orang, menempatkan Lampung pada peringkat ketiga di Sumatera dan peringkat kedelapan secara nasional.
Ia juga memaparkan bahwa sepanjang 2026, Polda Lampung bersama jajaran telah mengungkap 1.083 kasus dengan 1.560 tersangka.
Barang bukti yang diamankan dalam pengungkapan tersebut antara lain ganja sebanyak 84,5 kilogram, sabu 479,8 kilogram, ekstasi 20.150 butir, serta berbagai jenis narkotika dan psikotropika lainnya.
Nilai ekonomis barang bukti tersebut disebut mencapai sekitar Rp204,3 miliar, dengan estimasi penyelamatan terhadap 732.232 jiwa.
Data tersebut menjadi bagian dari edukasi kepada mahasiswa mengenai pentingnya pencegahan penyalahgunaan narkotika sejak dini, khususnya karena generasi muda merupakan salah satu kelompok yang perlu mendapatkan penguatan literasi dan perlindungan dari bahaya narkoba.
Dalam pemaparannya, Rizky juga menjelaskan bahwa modus operandi jaringan peredaran narkoba semakin beragam.
Narkotika dapat disembunyikan di berbagai tempat, mulai dari dashboard mobil, bagian bawah bak kendaraan yang telah dimodifikasi, bagasi bus, tabung gas elpiji, mesin genset, hingga wadah seperti toples sambal.
Pengiriman juga dapat dilakukan menggunakan berbagai sarana transportasi maupun jasa, termasuk truk kargo, towing, ambulans, dan jasa ekspedisi.
Mahasiswa diingatkan agar berhati-hati terhadap praktik “titip barang” dari pihak yang tidak dikenal atau paket yang tidak diketahui secara jelas isi dan asalnya.
Edukasi tersebut penting agar mahasiswa tidak secara tidak sengaja terlibat dalam jaringan peredaran narkoba akibat menerima atau membawa barang yang ternyata berisi narkotika.
Dalam pemaparannya, Polda Lampung juga menyampaikan pengungkapan perkara yang berkaitan dengan jaringan narkotika internasional, termasuk jaringan Fredy Pratama, dengan data kasus dan tersangka sebagaimana disampaikan dalam materi kegiatan.
Sementara itu, materi antikorupsi disampaikan oleh IPTU Reza Prasetia, S.H., M.H., PS. Panit 1 Unit 3 Subdit Tipidkor Ditreskrimsus Polda Lampung.
Ia menekankan bahwa budaya antikorupsi harus dibangun sejak dini dan dimulai dari lingkungan terdekat.
Mahasiswa diperkenalkan dengan berbagai bentuk perilaku yang berpotensi menjadi bagian dari praktik koruptif, antara lain suap, gratifikasi, konflik kepentingan, manipulasi data, hingga praktik titip-menitip yang dapat mengikis nilai kejujuran dan integritas.
Menurutnya, pendidikan antikorupsi tidak cukup hanya melalui pemahaman teori. Nilai integritas harus diwujudkan dalam perilaku nyata, termasuk membiasakan diri bersikap jujur, bertanggung jawab, transparan, dan berani menolak tindakan yang bertentangan dengan aturan.
Dalam sesi terpadu, mahasiswa mendapatkan penguatan mengenai tiga tantangan yang perlu menjadi perhatian bersama di lingkungan pendidikan, yaitu kekerasan, korupsi, dan narkotika.
Pada aspek kekerasan, mahasiswa diajak memahami pentingnya mencegah intimidasi, perundungan atau bullying, kekerasan fisik, psikologis, seksual, maupun kekerasan berbasis digital.
Dalam pencegahan korupsi, mahasiswa didorong untuk menolak suap, gratifikasi, manipulasi, serta penyalahgunaan kewenangan.
Sementara dalam pencegahan narkotika, mahasiswa diajak membangun lingkungan yang tidak permisif terhadap penyalahgunaan narkoba, meningkatkan kewaspadaan, serta memahami pentingnya edukasi dan akses bantuan atau rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan.
Mahasiswa juga mendapatkan pembekalan praktis untuk berani mengatakan “tidak” terhadap situasi berisiko, menjauh dari lingkungan yang dapat membahayakan, serta meminta bantuan melalui jalur resmi ketika menghadapi persoalan.
Rangkaian kuliah umum berlangsung interaktif. Mahasiswa baru terlihat antusias mengikuti pemaparan narasumber dan diskusi yang membahas berbagai situasi yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Sejumlah pembahasan yang menarik perhatian mahasiswa antara lain studi kasus mengenai bullying dalam grup kelas, etika berkomunikasi di media sosial, bahaya narkoba, serta modus titip barang yang berpotensi menjadikan seseorang sebagai kurir narkotika tanpa menyadarinya.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diajak memahami langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi situasi yang berisiko.
Pesan utama yang ditekankan dalam kegiatan tersebut adalah bahwa pencegahan membutuhkan keterlibatan seluruh warga kampus.
Berani menolak, berani peduli, dan berani bertindak menjadi nilai yang ditekankan agar mahasiswa mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan berintegritas.
Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H.M. Nasrullah Yusuf, S.E., M.B.A., menempatkan pendidikan karakter sebagai bagian penting dalam proses pembentukan mahasiswa.
Melalui rangkaian PKKMB Sang Juara 2026, mahasiswa baru tidak hanya diperkenalkan dengan kehidupan akademik, tetapi juga mendapatkan pembekalan mengenai kebangsaan, integritas, keamanan, kesehatan, tanggung jawab sosial, dan etika sebagai bagian dari masyarakat.
Menurut Nasrullah, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi muda yang memiliki kemampuan akademik sekaligus karakter yang kuat.
“Mahasiswa Teknokrat harus tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berkarakter, disiplin, memiliki integritas, serta mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat. Karena itu, pendidikan karakter harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan mahasiswa selama berada di Universitas Teknokrat Indonesia,” ujar Nasrullah.
Ia juga mendorong mahasiswa agar menjadikan masa perkuliahan sebagai kesempatan untuk membangun kompetensi sekaligus memperkuat nilai-nilai tanggung jawab, kepedulian, dan kebangsaan.
Kolaborasi Universitas Teknokrat Indonesia dengan Polda Lampung dalam kegiatan PKKMB menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan institusi kepolisian dalam memberikan edukasi kepada generasi muda.
Materi mengenai narkoba, antikorupsi, pencegahan kekerasan, antiterorisme, serta etika bermedia sosial memiliki relevansi langsung dengan kehidupan mahasiswa dan tantangan sosial yang berkembang di era digital.
Sinergi tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan melalui berbagai kegiatan edukatif yang memberikan manfaat bagi mahasiswa dan lingkungan pendidikan.
Universitas Teknokrat Indonesia juga terus mendorong terciptanya ekosistem kampus yang mendukung pengembangan akademik, teknologi, karakter, kepemimpinan, serta kepedulian sosial mahasiswa.
Pelaksanaan kuliah umum dalam rangkaian PKKMB Sang Juara 2026 memiliki keterkaitan dengan sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs).
Kegiatan ini mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui edukasi pencegahan penyalahgunaan narkotika serta penguatan kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya menjaga kesehatan dan keselamatan diri. Kegiatan ini juga mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui integrasi pendidikan karakter, literasi integritas, pencegahan kekerasan, dan etika bermedia sosial dalam pembekalan mahasiswa baru.
Selain itu, pendidikan antikorupsi, penguatan integritas, pencegahan kekerasan, serta kolaborasi dengan aparat penegak hukum turut mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, khususnya dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman, bertanggung jawab, transparan, dan berintegritas.
Melalui PKKMB Sang Juara 2026, Universitas Teknokrat Indonesia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan mahasiswa membangun karakter, menjaga integritas, mengambil keputusan secara bertanggung jawab, dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan.
Pembekalan bersama Polda Lampung menjadi salah satu langkah awal bagi mahasiswa baru untuk memahami berbagai tantangan yang dapat dihadapi selama menjalani kehidupan kampus maupun ketika memasuki dunia profesional.
Dengan menggabungkan pendidikan akademik, teknologi, karakter, integritas, dan kepedulian sosial, Universitas Teknokrat Indonesia terus mendorong lahirnya generasi Sang Juara yang memiliki kompetensi sekaligus nilai moral untuk berkontribusi dalam membangun Indonesia yang lebih maju dan berkelanjutan.
Baca Juga: LUAR BIASA MEMBANGGAKAN !! Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Borong Juara di PEKSIMINAS 2026
#PKKMB2026
#KampusBerdampak
#KampusTerbaikdiLampung