Bandar Lampung – Tantangan menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi ju’ga memiliki kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, berkolaborasi, serta berani menciptakan perubahan. Pesan tersebut disampaikan Ketua DPW PKS Lampung yang juga Wakil Ketua Komisi I DPRD Provinsi Lampung, Ade Utami Ibnu, S.E., saat menjadi narasumber dalam Leadership Education Program (LEP) 2026 Universitas Teknokrat Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung di Gelanggang Mahasiswa Dr. HM. Nasrullah Yusuf, Universitas Teknokrat Indonesia, tersebut dimoderatori oleh Dr. Jafar Fakhrurozi, S.Pd., M.Hum. Ade membekali mahasiswa dengan perspektif mengenai kepemimpinan adaptif dan strategi mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia yang semakin cepat.
Menurut Ade, Indonesia Emas 2045 akan menjadi momentum penting ketika generasi muda saat ini berada pada usia produktif dan berpotensi menduduki berbagai posisi strategis di masyarakat, pemerintahan, dunia usaha, pendidikan, maupun sektor lainnya.
Karena itu, menurutnya, tantangan generasi muda tidak berhenti pada upaya mendapatkan pekerjaan terbaik. Lebih jauh, mereka perlu mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin yang mampu menggerakkan perubahan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ade menjelaskan bahwa perubahan global berlangsung semakin cepat dan terjadi hampir di seluruh aspek kehidupan, mulai dari perkembangan teknologi, dunia kerja, sosial, hingga ekonomi.
Dalam kondisi tersebut, kepemimpinan adaptif menjadi salah satu kompetensi penting. Pemimpin adaptif harus mampu membaca perubahan, menjaga nilai dan integritas, sekaligus menggerakkan kolaborasi di tengah situasi yang dinamis.
“Generasi muda harus mempersiapkan diri bukan hanya untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi untuk menjadi bagian dari kepemimpinan yang mampu membawa perubahan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Ade dalam sesi pembekalan.
Menurutnya, pemimpin adaptif tidak boleh hanya bersikap reaktif ketika menghadapi perubahan. Pemimpin harus mampu mengantisipasi tantangan, mengenali peluang, serta terus mengembangkan kompetensi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Perkembangan artificial intelligence (AI), big data, dan digitalisasi turut mengubah cara manusia bekerja dan mengambil keputusan. Kondisi tersebut menuntut generasi muda memiliki kemampuan yang lebih luas dibandingkan sekadar penguasaan teknis.
Ade mendorong mahasiswa untuk mengembangkan critical thinking, kreativitas, kemampuan memverifikasi informasi, kolaborasi, komunikasi, serta learning agility atau kemampuan untuk terus belajar sepanjang hayat.
Menurutnya, derasnya arus informasi di era digital membuat kemampuan memilah dan memverifikasi informasi menjadi sangat penting. Generasi muda harus mampu membedakan informasi yang valid dengan informasi yang menyesatkan sebelum mengambil keputusan atau menyebarkannya kepada orang lain.
Di sisi lain, AI perlu ditempatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas dan kemampuan manusia.
“AI harus dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan akal, etika, dan tanggung jawab manusia. Teknologi akan memberikan manfaat ketika digunakan dengan kompetensi dan integritas,” jelasnya.
Dalam sesi tersebut, Ade juga mengajak mahasiswa memahami perbedaan antara masalah teknis dan tantangan adaptif.
Masalah teknis umumnya memiliki prosedur, metode, atau solusi yang relatif jelas sehingga dapat diselesaikan melalui keahlian dan penerapan sistem yang tepat.
Sementara itu, tantangan adaptif jauh lebih kompleks karena membutuhkan perubahan pola pikir, perilaku, kebiasaan, serta pola kerja sama. Penyelesaiannya tidak cukup hanya dengan mengandalkan prosedur yang sudah tersedia.
Pemahaman tersebut penting bagi calon pemimpin karena berbagai persoalan di masa depan kemungkinan besar akan bersifat kompleks dan membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi.
Ade memaparkan lima langkah utama yang dapat diterapkan generasi muda untuk mengembangkan kepemimpinan adaptif.
Pertama, melakukan observasi terhadap akar persoalan agar keputusan tidak hanya didasarkan pada gejala yang terlihat di permukaan.
Kedua, berani menghadapi kenyataan, termasuk menerima fakta dan kondisi yang mungkin tidak sesuai dengan harapan.
Ketiga, bereksperimen dengan solusi baru untuk menemukan pendekatan yang paling efektif terhadap suatu persoalan.
Keempat, belajar dari evaluasi, sehingga setiap keberhasilan maupun kegagalan dapat menjadi sumber pembelajaran untuk perbaikan berikutnya.
Kelima, tetap berpegang pada nilai dan tujuan, meskipun strategi dan pendekatan dapat berubah menyesuaikan kondisi.
Menurut Ade, prinsip tersebut memungkinkan seorang pemimpin tetap memiliki arah yang jelas sekaligus fleksibel dalam menentukan cara untuk mencapai tujuan.
Lebih lanjut, Ade menjelaskan bahwa pemimpin visioner harus memiliki tiga fondasi penting, yaitu arah yang jelas, nilai yang kuat, dan orientasi terhadap dampak nyata.
Untuk mendukung hal tersebut, mahasiswa perlu mengembangkan sejumlah kompetensi utama, antara lain learning agility, critical thinking, kolaborasi, komunikasi, serta kemampuan mengeksekusi gagasan menjadi aksi nyata.
Menurutnya, gagasan yang baik tidak akan memberikan dampak apabila tidak diikuti kemampuan untuk melaksanakannya.
Karena itu, generasi muda perlu belajar mengubah ide menjadi program, program menjadi aksi, dan aksi menjadi manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Di tengah perkembangan teknologi digital, Ade juga mendorong generasi muda untuk meningkatkan posisi mereka dari sekadar consumer menjadi creator, bahkan leader.
Mahasiswa tidak cukup hanya menggunakan teknologi untuk menikmati informasi atau hiburan. Teknologi harus dimanfaatkan untuk menciptakan solusi, membangun inovasi, mengembangkan karya, serta menyelesaikan berbagai persoalan di lingkungan sekitar.
Perubahan pola pikir tersebut dinilai penting untuk membangun generasi yang produktif dan memiliki daya saing global.
Ade juga memperkenalkan konsep collaborative leadership yang bertumpu pada empat unsur utama atau 4K, yakni memiliki tujuan bersama, membangun kepercayaan, menjalin komunikasi efektif, dan memberikan kontribusi sesuai kompetensi masing-masing.
Menurutnya, persoalan besar tidak dapat diselesaikan oleh satu orang atau satu kelompok saja. Dibutuhkan kolaborasi berbagai pihak dengan kompetensi dan perspektif yang berbeda.
Kepemimpinan kolaboratif memungkinkan setiap individu berkontribusi berdasarkan keahliannya sekaligus membangun rasa memiliki terhadap tujuan bersama.
Namun, Ade mengingatkan bahwa seluruh kompetensi tersebut harus berdiri di atas fondasi integritas.
“Kompetensi tanpa integritas dapat disalahgunakan. Sebaliknya, integritas tanpa kompetensi tidak akan menghasilkan dampak yang optimal. Karena itu, keduanya harus tumbuh secara bersamaan,” tegasnya.
Untuk mendorong mahasiswa segera menerapkan materi yang diperoleh, Ade mengajak peserta menyusun rencana aksi 30 hari.
Dalam periode tersebut, mahasiswa didorong untuk mempelajari setidaknya satu keterampilan baru, membangun sebuah proyek kolaboratif, mengurangi kebiasaan digital yang tidak produktif, mencari mentor, sekaligus membantu orang lain untuk berkembang.
Langkah sederhana tersebut diharapkan menjadi awal bagi mahasiswa untuk membangun kebiasaan positif dan menerjemahkan konsep kepemimpinan ke dalam tindakan nyata.
Menurut Ade, kepemimpinan tidak lahir hanya dari jabatan formal. Kepemimpinan dapat dimulai dari kemampuan seseorang mengambil inisiatif, bertanggung jawab terhadap lingkungan, dan berani menjadi bagian dari solusi.
Universitas Teknokrat Indonesia menyambut positif materi kepemimpinan adaptif yang diberikan dalam LEP 2026. Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H. Mahathir Muhammad, S.E., M.M., menilai perspektif mengenai kepemimpinan adaptif sangat relevan dengan kebutuhan mahasiswa di tengah perubahan teknologi dan dinamika global.
Menurut Mahathir, mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman belajar yang melampaui ruang kelas agar mampu memahami persoalan nyata dan mengembangkan kemampuan kepemimpinan secara langsung.
“Kami bangga melihat mahasiswa mendapatkan pembekalan dari berbagai tokoh dan praktisi yang memiliki pengalaman serta perspektif luas. Kepemimpinan adaptif, kemampuan berkolaborasi, integritas, dan penguasaan teknologi merupakan bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi masa depan,” ujar Mahathir.
Ia menambahkan bahwa Universitas Teknokrat Indonesia berkomitmen menciptakan ekosistem pendidikan yang mendorong mahasiswa menjadi pribadi yang aktif, kreatif, inovatif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Pembekalan kepemimpinan adaptif dalam Leadership Education Program 2026 juga memiliki keterkaitan erat dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Kegiatan ini secara langsung mendukung SDG 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas) melalui pengembangan kompetensi mahasiswa, seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kepemimpinan, kemampuan berkolaborasi, dan pembelajaran sepanjang hayat.
Penguatan keterampilan kepemimpinan, kemampuan adaptasi, serta kesiapan menghadapi perubahan dunia kerja juga selaras dengan SDG 8: Decent Work and Economic Growth (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Generasi muda dipersiapkan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja sekaligus mampu menciptakan peluang dan inovasi.
Sementara itu, penekanan terhadap kolaborasi, integritas, partisipasi, dan kemampuan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama turut mendukung SDG 16: Peace, Justice and Strong Institutions, khususnya dalam membangun generasi yang mampu menciptakan kepemimpinan berintegritas dan kelembagaan yang bertanggung jawab.
Semangat membangun jejaring dan kolaborasi lintas sektor juga sejalan dengan SDG 17: Partnerships for the Goals, karena perubahan yang berdampak membutuhkan kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan.
Melalui Leadership Education Program 2026, Universitas Teknokrat Indonesia terus memperkuat komitmennya dalam mencetak generasi muda yang adaptif, kolaboratif, berintegritas, dan mampu memanfaatkan teknologi secara bijak.
Pesan utama yang disampaikan dalam sesi tersebut menjadi pengingat bagi mahasiswa bahwa masa depan bukan sekadar sesuatu yang ditunggu atau diprediksi, melainkan sesuatu yang harus diciptakan melalui keberanian untuk belajar, mengambil inisiatif, dan memberikan dampak.
Kepemimpinan, pada akhirnya, dimulai ketika seseorang berhenti menunggu orang lain bertindak dan mulai bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang dapat saya lakukan untuk membawa perubahan?
#KampusBerdampak
#KampusTerbaikdiLampung
#LeadershipEducationProgram