
Universitas Teknokrat Indonesia mengadakan pengabdian kepada masyarakat di SMAN 13 Bandar Lampung kemarin.
Kepala SMAN 13 Bandar Lampung Febriansah M.Pd menyambut baik program ini. Ia berharap kerja sama dengan Teknokrat bisa dilanjutkan pada masa mendatang.
Ia juga berharap kerja sama bisa masuk ke ranah yang lain demi peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Ia menilai, Teknokrat mempunyai sumber daya manusia yang luar biasa sehingga mampu meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah ini.
Baca juga : Kunjungi Universitas Teknokrat, Siswa dan Guru SMKN 1 Banjar Agung Tulangbawang Praktek Metaverse
Hadir dalam acara pengabdian ini Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Teknokrat Achmad Yudi Wahyudin M.Pd.
Yudi memberikan materi kepada siswa seputar membangun jiwa kepemimpinan dan keterampilan wicara publik atau public speaking.
Yudi memaparkan enam teknik bicara.
Pertama, retorika. Ini adalah teknik bicara dengan melontarkan kalimat pertanyaan tak membutuhkan jawaban. Retorika dibutuhkan untuk membangkitkan kesadaran darfi audiens terhadap poin yang ingin disampaikan pembicara.
Kedua, analogi. Seorang pembicara juga bisa menggugah audiens dengan memberikan contoh atau amsal. Analogi ini juga berguna bagi seorang pemimpin untuk menjelaskan sesuatu secara lebih sederhana dan mudah dicerna.
Kemampuan menganalogikan sesuatu bagi seorang pemimpin penting agar mitra kerjanya bisa menyelesaikan pekerjaan yang diberikan.
Ketiga, humor. Seorang pemimpin kala bicara juga bagus jika mampu menyelipkan sisi humor. Dengan humor, suasana menjadi hangat dan audiens bisa nyaman menerima pesan.
Termasuk juga bawahan atau karyawan yang menjalankan isi pesan dengan baik karena diselipkan sisi humor. Humor menjadi oasis bagi audiens untuk lebih memahami konteks dari pesan yang disampaikan.
Keempat, emotive language. Kemampuan pemimpin atau seorang pembicara juga bisa didukung dengan kemampuan emotive language ini.
Misalnya dengan menaikkan intonasi bicara dalam momentum tertentu. Atau kemampuan pembicara memantik sisi emosi atau simpati dari audiens dengan gaya bicara ditambah mimik wajah yang mendukung.
Yudi bahkan bilang, jika kita pernah mendengar ceramah agama sampai menangis, itu artinya si pembicara atau penceramah memainkan emotive language sehingga menghanyutkan audiens.
Kelima, nonverbal. Misalnya dengan tersenyum saat mengatakan satu konteks yang dianggap paling penting. Jika ingin menitikberatkan sesuatu, kita bisa menggunakan nonverbal ini. Kesan yang akan didapat akan kuat meskipun si pembicara tidak menyebutkan secara eksplisit apa yang hendak ia sampaikan.
Bisa juga dengan menjetikkan jari kita sehingga audiens bisa semakin mengerti pesan yang disampaikan.
Keenam, punya pesan. Usai berbicara, diulang atau ditegaskan poin yang hendak disampaikan. Pesan ini pada khatimah pembicaraan menjadi urgen untuk mengingatkan audiens terhadap tema besar pembicaraan.
Sementara itu, untuk poin kepemimpinan ia mengemukakan beberapa hal.
Setidaknya ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai resep mewujudkan kepemimpinan.
Pertama, kontrollah hidup dengan baik
Mengontrol hidup maknanya membatasi diri untuk tidak melakukan hal-hal tercela. Sebaliknya, komitmen dan istikamah dalam menjalani kehidupan dengan perbuatan yang mulia.
Pemimpin, kata dia, sarat dengan kebaikan karena orang lain memang membutuhkan itu. Oleh karena itu, minimalkan perilaku tercela dalam hidup.
Kedua, tentukan tanggung jawab
Pemimpin itu bertanggung jawab terhadap yang dipimpin. Karenanya, berusahalah untuk mewujudkan kemaslahatan bagi orang lain. Tugas pemimpin adalah mengimplementasikan program untuk kebaikan orang banyak dan masyarakat.
Ketiga, membangun kultur positif dan dinamis
Hidup dinamis adalah kemestian yang akan dialami pemimpin. Karena itu, siswa didorong untuk mencoba banyak hal sebagai pembelajaran dalam kehidupan. Kedinamisan itu bergantung pada pengalaman yang dialami. Semakin dinamis, semakin baik.
Keempat, belajar dari kesalahan
Seorang pemimpin mesti bisa belajar dari kesalahan. Dalam organisasi, kesalahan itu bisa terjadi karena disebabkan banyak hal. Maka itu, pemimpin bisa mengambil pelajaran dari kesalahan.
Evaluasi dalam hal ini menjadi urgen. Sebab, dengan evaluasi, kesalahan serupa bisa dihindari. Selain itu, seorang pemimpin harus berani mengambil tanggung jawab dari kesahan anak buah.
Kelima, beri penghargaan atas apa yang kamu dapatkan
Pemimpin juga berhak untuk memberi penghargaan atas prestasi yang diperoleh.