ID
EN
Bandar Lampung – Universitas Teknokrat Indonesia Kampus Berdampak Terbaik di Lampung terus memperkuat komitmennya dalam membangun lingkungan pendidikan yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik dan teknologi, tetapi juga berlandaskan nilai-nilai agama, karakter, dan integritas. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan pembinaan spiritual dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan tema “Meneladani Akhlak-Nya untuk Menjadi Insan yang Berilmu dan Berintegritas” yang diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia.
Kegiatan ini dihadiri oleh Pembina Yayasan, jajaran Wakil Rektor dan manajemen Universitas Teknokrat Indonesia, para Dekan, Ketua Program Studi, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa.
Melalui kegiatan tersebut, sivitas akademika diajak menjadikan keteladanan Rasulullah Muhammad SAW sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, baik dalam menjalankan tugas akademik, bekerja, belajar, maupun memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Teknokrat Indonesia, Aulya Rahman Isnain, S.Kom., M.Cs., dalam sambutannya mewakili Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, menegaskan bahwa kemajuan teknologi dan pendidikan yang dikembangkan Universitas Teknokrat Indonesia tetap harus berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai agama.
Menurutnya, meskipun Teknokrat dikenal sebagai perguruan tinggi yang bergerak dalam bidang teknologi, ekonomi, dan bahasa, proses pendidikan yang dijalankan tidak pernah mengesampingkan pembentukan karakter dan nilai keagamaan.
“Insyaallah dalam proses pembelajaran di Universitas Teknokrat Indonesia ini, kami tidak meninggalkan nilai-nilai agama. Kami juga terus meneladani ajaran Rasulullah untuk selalu berbagi dan menyantuni anak yatim serta fakir miskin di Provinsi Lampung,” ujar Aulya.
Ia menambahkan, komitmen tersebut juga diwujudkan melalui pelaksanaan zakat mal yang dilakukan Yayasan Pendidikan Teknokrat setiap tahun.
“Melalui zakat mal ini kita diajarkan untuk berbagi dan meneladani apa yang telah disampaikan Nabi Muhammad SAW. Mudah-mudahan menjadi keberkahan bagi kita semua,” tambahnya.
Dalam sambutannya, Aulya mengajak seluruh sivitas akademika mengimplementasikan sifat-sifat utama Rasulullah SAW dalam kehidupan akademik maupun profesional.
Pertama, Siddiq, yang berarti jujur dan dapat dipercaya. Nilai tersebut dinilai sangat penting dalam dunia pendidikan. Dosen dituntut menjunjung kejujuran dalam mengajar dan melakukan penelitian, sementara mahasiswa harus mengedepankan kejujuran dalam proses pembelajaran dan menyelesaikan berbagai tugas akademik.
“Di Universitas Teknokrat Indonesia kita junjung tinggi kejujuran dalam setiap tugas,” tegasnya.
Kedua, Fathonah, yakni kecerdasan. Menurut Aulya, Rasulullah SAW merupakan sosok pemimpin yang cerdas dan mampu menghadapi perubahan zaman.
Nilai tersebut relevan dengan semangat Universitas Teknokrat Indonesia yang terus mendorong sivitas akademika agar adaptif terhadap perkembangan teknologi.
“Begitu juga di Teknokrat, kita harus adaptif. Buktinya kita punya Dinopark, robotik, dan fokus pada teknologi, kewirausahaan, dan bahasa. Jika kita tidak mengikuti perkembangan zaman, kita akan tertinggal. Kita ingin mencetak mahasiswa yang siap menjadi Generasi Emas 2045,” ujarnya.
Ketiga, Amanah dan Tabligh, yakni bertanggung jawab serta menyampaikan kebenaran. Nilai tersebut diharapkan diterapkan dalam hubungan kerja, proses pendidikan, komunikasi, maupun dalam menjalankan tanggung jawab masing-masing.
“Mari kita saling mengingatkan dan berkomunikasi dengan baik dalam bekerja. Sebagai civitas akademika, kita harus bertanggung jawab atas tugas kita, baik di dunia maupun di akhirat,” pesannya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. H. Asep Kholis Nurjamil, S.H.I., M.Kom.I.
Dalam suasana yang santai namun sarat makna, Ustadz Asep mengajak seluruh peserta untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus menjadikan akhlak beliau sebagai pedoman dalam kehidupan.
Ia juga mengapresiasi Universitas Teknokrat Indonesia yang menyelenggarakan kegiatan bernuansa keagamaan tersebut pada Jumat pagi.
“Ini hebatnya Teknokrat. Walaupun bukan lembaga Islam, tapi nafasnya nafas Islami. Lihat hadrohnya, cuma lima orang tapi adem. Ini bukti kampus ini ingin makin dicintai Allah dan makin berkah,” ujar Ustadz Asep.
Ia juga menyampaikan doa untuk Pembina Yayasan Hj. Hernaini, S.S., M.Pd. dan Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Dr. H.M. Nasrullah Yusuf, S.E., M.B.A., yang berhalangan hadir karena sedang menjalankan tugas di Masjid Al-Hijrah Kota Baru.
Ustadz Asep turut mendoakan agar berbagai ikhtiar dan pembangunan yang dilakukan keluarga besar Teknokrat senantiasa mendapatkan keberkahan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Asep menjelaskan sejumlah alasan penting mengapa umat Islam harus mencintai Rasulullah SAW.
Pertama, agar mendapatkan kecintaan Allah SWT. Dengan mengutip QS. Ali Imran ayat 31, ia menjelaskan bahwa salah satu bukti kecintaan kepada Allah adalah dengan mengikuti Rasulullah SAW.
Menurutnya, kecintaan kepada Rasulullah harus diwujudkan melalui keteladanan dan penerapan ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, mengharapkan syafaat Rasulullah SAW dan memperoleh keselamatan di akhirat. Di tengah keterbatasan amal manusia, syafaat Nabi menjadi salah satu harapan umat Islam untuk mendapatkan pertolongan Allah SWT.
Ketiga, menjadikan Rasulullah SAW sebagai Uswatun Hasanah atau teladan terbaik. Ustadz Asep menekankan sedikitnya dua nilai penting yang dapat diteladani, yakni syukur dan sabar. Ia mengingatkan bahwa Rasulullah SAW, meskipun telah dijamin surga, tetap menjalankan ibadah dengan penuh kesungguhan.
Sikap tersebut menjadi pelajaran bahwa rasa syukur harus diwujudkan melalui pengabdian dan ketaatan, sedangkan berbagai ujian kehidupan harus dihadapi dengan kesabaran serta semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ustadz Asep kemudian mengajak sivitas akademika Universitas Teknokrat Indonesia untuk menghidupkan empat sifat utama Rasulullah SAW dalam kehidupan kampus.
Kejujuran harus menjadi dasar dalam mengajar, belajar, melakukan penelitian, bekerja, serta menggunakan berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT untuk kebaikan.
Nilai tersebut penting untuk membangun lingkungan akademik yang sehat, profesional, dan dapat dipercaya.
Amanah berarti mampu menjalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh.
“Perusahaan tidak selalu butuh orang paling pintar, tapi butuh orang jujur dan tanggung jawab. Datang lebih pagi, selesaikan kerja dengan baik,” pesan Ustadz Asep.
Menurutnya, profesionalisme tidak hanya diukur dari kemampuan intelektual, tetapi juga dari sikap disiplin dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas.
Fathonah mengajarkan pentingnya terus belajar dan mengembangkan pengetahuan.
“Jangan pernah puas dengan ilmu. Rabbi zidni ilma. Teknokrat harus cetak Generasi Emas 2045 di bidang teknologi, robotik, kewirausahaan, dan bahasa,” ujarnya.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat Universitas Teknokrat Indonesia dalam mengembangkan kompetensi mahasiswa agar mampu mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan zaman.
Sifat tabligh mengajarkan pentingnya menyampaikan kebaikan dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Ustadz Asep mengingatkan prinsip “Khairunnas anfa’uhum linnas”, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Ia juga mengajak sivitas akademika menggunakan media sosial secara bijak, menjadikannya sarana berbagi pengetahuan, inspirasi, dan kebaikan, bukan sebagai sumber dosa atau dampak negatif.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Asep juga mengingatkan seluruh peserta agar setiap aktivitas yang dilakukan di kampus dilandasi niat karena Allah SWT.
Menurutnya, bekerja dan belajar tidak semata-mata berorientasi pada materi, gaji, jabatan, atau status, tetapi harus ditempatkan sebagai bagian dari pengabdian dan ibadah.
“Kalau karena Allah, Allah yang akan mengatur,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa ikhtiar manusia harus berjalan bersama dengan keikhlasan, doa, dan keyakinan kepada Allah SWT.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan Mahalul Qiyam sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Mahalul Qiyam dipimpin oleh Tim Shalawat Asma Yusuf Teknokrat. Seluruh hadirin berdiri bersama mengikuti lantunan shalawat dalam suasana yang khidmat dan penuh kebersamaan.
Kegiatan tersebut semakin memperkuat suasana religius sekaligus menjadi momentum bagi seluruh sivitas akademika untuk merefleksikan kembali pentingnya akhlak dalam kehidupan pribadi, akademik, dan profesional.
Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H.M. Nasrullah Yusuf, S.E., M.B.A., menyampaikan bahwa kemajuan perguruan tinggi tidak cukup hanya diukur dari prestasi akademik dan teknologi.
Menurutnya, pendidikan harus mampu melahirkan manusia yang memiliki ilmu, karakter, integritas, kepedulian sosial, serta tanggung jawab moral.
“Universitas Teknokrat Indonesia ingin membangun generasi yang unggul bukan hanya dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki karakter, integritas, dan kepedulian terhadap sesama. Ilmu yang dimiliki harus menjadi jalan untuk memberikan manfaat,” ujar Nasrullah.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW relevan untuk diterapkan dalam kehidupan kampus, terutama dalam membangun budaya kejujuran, tanggung jawab, kecerdasan, komunikasi yang baik, dan kepedulian sosial.
Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. Mahathir Muhammad, S.E., M.M., turut memberikan dukungan terhadap kegiatan pembinaan spiritual tersebut.
Menurutnya, penguatan karakter dan spiritualitas merupakan bagian penting dalam mewujudkan konsep Kampus Berdampak.
“Prestasi akademik dan kemajuan teknologi harus berjalan bersama dengan karakter dan integritas. Kami ingin sivitas akademika Universitas Teknokrat Indonesia memiliki kompetensi yang kuat sekaligus menjunjung tinggi kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Mahathir.
Ia menambahkan bahwa pembinaan spiritual menjadi salah satu ruang refleksi bagi seluruh keluarga besar Teknokrat untuk memperkuat semangat kebersamaan dan pengabdian.
“Ketika ilmu, kompetensi, dan akhlak berjalan bersama, maka kontribusi yang diberikan akan semakin luas dan memberikan dampak positif bagi masyarakat,” tambahnya.
Kegiatan pembinaan spiritual ini juga memiliki keterkaitan dengan komitmen Universitas Teknokrat Indonesia dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Penguatan karakter dan nilai keagamaan turut mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas, karena pendidikan berkualitas tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, integritas, dan kemampuan individu untuk berkembang secara utuh.
Nilai kejujuran, tanggung jawab, kecerdasan, serta kepedulian terhadap sesama yang ditekankan dalam kegiatan ini juga mendukung terbentuknya sumber daya manusia yang memiliki etika dan kesiapan menghadapi tantangan kehidupan profesional.
Semangat berbagi, menyantuni anak yatim, membantu fakir miskin, serta membangun kepedulian sosial juga memperkuat kontribusi kampus terhadap SDG 1: Tanpa Kemiskinan dan SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan, melalui penguatan kepedulian dan solidaritas sosial.
Sementara itu, pembentukan insan yang berintegritas, bertanggung jawab, dan menjunjung nilai kejujuran memiliki relevansi dengan SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, khususnya dalam membangun budaya etika, kepercayaan, dan tata kelola yang baik.
Dengan demikian, pembinaan spiritual tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga bagian dari upaya membangun sumber daya manusia yang berkarakter, berintegritas, peduli terhadap lingkungan sosial, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Kegiatan pembinaan spiritual Universitas Teknokrat Indonesia ditutup dengan istigfar, shalawat, dan doa bersama.
Doa dipanjatkan agar seluruh pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa senantiasa diberikan kesehatan, kemudahan dalam menjalankan amanah, serta keberkahan dalam setiap aktivitas.
Melalui kegiatan tersebut, Universitas Teknokrat Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk membangun pendidikan yang seimbang antara ilmu pengetahuan, teknologi, karakter, integritas, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Semangat tersebut menjadi bagian dari ikhtiar Teknokrat untuk mencetak Dosen Terbaik, Mahasiswa Terbaik, dan Kampus Terbaik yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga memiliki akhlak, kepedulian sosial, serta mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dengan fondasi ilmu dan karakter yang kuat, Universitas Teknokrat Indonesia berkomitmen terus hadir sebagai Kampus Berdampak yang berkontribusi bagi kemajuan pendidikan, pembangunan manusia, dan tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan.
#KampusBerdampak
#KampusBerdampakTerbaikdiLampung