PENDAFTARAN

Universitas Teknokrat Indonesia Siap Wujudkan Arahan Menteri Diktisaintek RI Untuk Perluas Peluang Kerja Lulusan PTS

Bandar Lampung – Pemerintah mendorong perguruan tinggi swasta (PTS) di Indonesia untuk semakin serius menyiapkan lulusan agar mampu memanfaatkan peluang kerja di tingkat internasional. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia Indonesia sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan nasional.

Baca Juga: Universitas Teknokrat Indonesia Perkuat Sinergi Pendidikan dan Pemerintah dalam Rakernas APTISI 2026

Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) 2026 di Bandar Lampung.

Rakernas I APTISI 2026 mengusung tema “Dari Sai Bumi Ruwa Jurai untuk Indonesia Emas 2045: Penguatan Daya Saing Perguruan Tinggi Swasta yang Mandiri, Inovatif, Kolaboratif, dan Berdampak.”

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi juga memberikan apresiasi terhadap berbagai terobosan yang dilakukan APTISI di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Ir. H. M. Budi Djatmiko, M.Si., M.E.I., termasuk melalui program Global Talent dan Sekolah Kepemimpinan Perguruan Tinggi.

Peluang Besar Lulusan Indonesia di Pasar Kerja Internasional

Menteri Brian Yuliarto mengatakan, perkembangan demografi dan kebutuhan tenaga kerja di sejumlah negara maju membuka peluang besar bagi lulusan perguruan tinggi Indonesia.

Jepang, Korea Selatan, Australia, serta sejumlah negara di Eropa saat ini menghadapi kebutuhan tenaga kerja pada berbagai sektor. Kondisi tersebut dinilai sebagai peluang yang perlu ditangkap secara strategis oleh Indonesia dengan menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan pasar kerja global.

“Peluang bekerja di luar negeri itu sangat besar. Karena itu, kita ingin menangkap peluang tersebut dengan menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten,” ujar Menteri Brian.

Menurutnya, kesiapan lulusan untuk memasuki pasar kerja internasional tidak cukup hanya mengandalkan ijazah dan kompetensi akademik. Lulusan juga perlu memiliki sertifikasi profesi, keterampilan teknis, kemampuan bahasa, serta kompetensi lain yang sesuai dengan persyaratan negara tujuan.

Pemerintah Siapkan Dukungan Sertifikasi dan Pembiayaan

Pemerintah juga tengah mendorong skema yang dapat membantu lulusan memenuhi kebutuhan sertifikasi dan persiapan keberangkatan sebelum bekerja di luar negeri.

Salah satu opsi yang tengah dijajaki adalah kerja sama dengan sektor perbankan untuk menyediakan pembiayaan bagi lulusan yang membutuhkan biaya sertifikasi maupun persiapan keberangkatan.

Pembiayaan tersebut diharapkan dapat dibayarkan secara bertahap melalui sebagian penghasilan setelah lulusan memperoleh pekerjaan di negara tujuan.

“Ini terobosan yang luar biasa untuk membuat kampus lebih berdampak dan lebih berdaya,” kata Menteri.

Skema tersebut sekaligus menunjukkan bahwa penguatan daya saing lulusan membutuhkan ekosistem yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, industri, lembaga sertifikasi, dan sektor keuangan.

APTISI Didorong Terus Melahirkan Terobosan

Menteri Brian juga mengapresiasi peran APTISI dalam mendorong perguruan tinggi swasta agar semakin inovatif dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta dunia kerja.

Menurutnya, program seperti Global Talent menjadi langkah strategis untuk memperluas orientasi pendidikan tinggi dari sekadar menghasilkan lulusan menjadi menyiapkan talenta yang mampu berkompetisi di tingkat global.

Perguruan tinggi swasta dinilai memiliki peran penting dalam mempercepat peningkatan kualitas SDM karena memiliki jejaring institusi yang luas serta kedekatan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia industri.

Baca Juga: LUAR BIASA !! Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Melaju ke Kompetisi Nasional Keamanan Siber

Pemerintah Dorong Tata Kelola Perguruan Tinggi Lebih Efisien

Selain membahas peluang kerja internasional, Rakernas I APTISI 2026 juga menjadi ruang pembahasan mengenai penguatan tata kelola perguruan tinggi.

Pemerintah mendorong agar perguruan tinggi memiliki tata kelola yang semakin efisien, adaptif, dan mampu memanfaatkan sumber daya secara optimal.

Salah satu aspek yang tengah dikaji pemerintah adalah penguatan skala pengelolaan perguruan tinggi negeri melalui opsi penggabungan bagi institusi yang dinilai belum mencapai skala ekonomi yang efisien.

Menurut Menteri, penguatan skala ekonomi perguruan tinggi dapat membantu meningkatkan efektivitas pengelolaan berbagai sumber daya, termasuk sistem informasi, administrasi akademik, hingga manajemen institusi.

Pemerintah Terbuka terhadap Masukan Perguruan Tinggi

Dalam forum tersebut, Menteri Brian menegaskan bahwa pemerintah terbuka terhadap masukan dari APTISI maupun seluruh perguruan tinggi dalam rangka memperbaiki kebijakan pendidikan tinggi.

“Kami sangat terbuka menerima berbagai masukan sehingga kita bisa melakukan apa yang memang perlu dilakukan untuk kemajuan perguruan tinggi di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Keterbukaan tersebut diharapkan dapat memperkuat komunikasi antara pemerintah dan perguruan tinggi sehingga kebijakan yang dihasilkan semakin relevan dengan kebutuhan institusi, mahasiswa, lulusan, industri, dan masyarakat.

Sinergi Pemerintah Pusat, Daerah, dan Perguruan Tinggi

Kegiatan Rakernas I APTISI 2026 turut dihadiri Prof. Dr. Iskhaq Iskandar, M.Sc., Kepala LLDIKTI Wilayah II, serta Marindo Kurniawan, S.T., M.M., Sekretaris Daerah Provinsi Lampung yang mewakili Gubernur Lampung.

Kehadiran unsur pemerintah pusat, pemerintah daerah, LLDIKTI, dan perguruan tinggi swasta tersebut memperlihatkan kuatnya sinergi berbagai pemangku kepentingan dalam mendorong kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia.

Forum tersebut sekaligus menjadi ruang strategis untuk menyelaraskan kebijakan nasional dengan kebutuhan perguruan tinggi di daerah.

Rektor Teknokrat: Siap Dukung Program Global Talent

Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H.M. Nasrullah Yusuf, S.E., M.B.A., turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menyampaikan apresiasi atas arahan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, khususnya terkait upaya membuka peluang lebih luas bagi lulusan Indonesia untuk memasuki pasar kerja global.

Nasrullah menegaskan bahwa Universitas Teknokrat Indonesia siap mengambil bagian dalam program Global Talent melalui penguatan kompetensi, sertifikasi, kurikulum yang relevan, serta kerja sama dengan dunia industri.

“Kami sangat mengapresiasi arahan Bapak Menteri. Universitas Teknokrat Indonesia melalui semangat KAMPUS BERDAMPAK terus menyiapkan kurikulum, sertifikasi, dan kerja sama industri agar lulusan kami siap bersaing, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di tingkat internasional,” ujar Nasrullah.

Menurutnya, peluang kerja internasional harus direspons perguruan tinggi dengan mempersiapkan mahasiswa sejak berada di bangku kuliah.

“Program Global Talent sangat sejalan dengan visi Universitas Teknokrat Indonesia untuk mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi, karakter, kemampuan beradaptasi, dan daya saing global. Kami siap berkolaborasi dengan pemerintah dan APTISI untuk mewujudkan SDM Indonesia yang mampu bersaing dan berkiprah di dunia,” tegasnya.

Ia menambahkan, pengalaman internasional, sertifikasi kompetensi, penguasaan teknologi, kemampuan komunikasi, dan pengalaman bekerja sama dengan industri menjadi bagian penting dalam membangun profil lulusan yang kompetitif.

Teknokrat Perkuat Kesiapan Lulusan Menghadapi Dunia Global

Komitmen tersebut sejalan dengan upaya Universitas Teknokrat Indonesia dalam memperkuat hubungan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja.

Melalui pengembangan kurikulum, sertifikasi kompetensi, kegiatan magang, kerja sama industri, penguatan kemampuan bahasa asing, serta berbagai program pengembangan mahasiswa, kampus terus mendorong agar lulusan memiliki kesiapan memasuki dunia profesional.

Transformasi tersebut juga menjadi bagian dari semangat KAMPUS BERDAMPAK, yakni menghadirkan pendidikan yang tidak berhenti pada proses pembelajaran di dalam kelas, tetapi menghasilkan lulusan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, dunia industri, dan pembangunan bangsa.

Selaras dengan SDGs dan Indonesia Emas 2045

Upaya menyiapkan lulusan yang kompeten dan mampu bersaing di tingkat internasional juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

Penguatan kompetensi, sertifikasi, dan akses terhadap peluang kerja global dapat memperluas kesempatan generasi muda untuk memperoleh pekerjaan yang layak sekaligus meningkatkan produktivitas dan daya saing sumber daya manusia Indonesia.

Di sisi lain, penguatan inovasi, kolaborasi perguruan tinggi dengan pemerintah dan industri, serta pemanfaatan teknologi juga mendukung SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.

Menuju Pendidikan Tinggi yang Mandiri, Inovatif, dan Berdampak

Menutup rangkaian kegiatan, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menyampaikan salam dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto serta memberikan apresiasi terhadap kontribusi APTISI dalam menghadirkan berbagai inovasi untuk meningkatkan peran dan dampak perguruan tinggi bagi masyarakat.

Menteri berharap Rakernas I APTISI 2026 dapat menghasilkan program dan rekomendasi konkret yang memberikan kontribusi terhadap kemajuan pendidikan tinggi sekaligus memperkuat kesiapan Indonesia menghadapi tantangan pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.

Bagi Universitas Teknokrat Indonesia, forum tersebut menjadi momentum untuk semakin memperkuat komitmen membangun pendidikan tinggi yang mandiri, inovatif, kolaboratif, berorientasi global, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat serta bangsa Indonesia.

Baca Juga: MEMBANGGAKAN !! Universitas Teknokrat Indonesia Dipercaya Kemendiktisaintek RI Jadi Tuan Rumah Pelatihan Penulisan Paten Tingkat Nasional

#KampusBerdampak
#KampusBerdampakTerbaikdiLampung
#RakernasAPTISI2026