Bandar Lampung – Kepemimpinan sejati tidak ditentukan oleh jabatan maupun posisi formal, melainkan oleh kemampuan seseorang dalam mengendalikan diri, memberikan teladan, menginspirasi orang lain, dan menghadirkan perubahan positif. Pesan tersebut disampaikan Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H. Mahathir Muhammad, S.E., M.M., saat menjadi narasumber dalam rangkaian Leadership Education Program (LEP) 2026 Universitas Teknokrat Indonesia, Jumat (7/8/2026).
Dalam sesi pembekalan yang diikuti ratusan mahasiswa tersebut, Mahathir mengajak peserta memahami kepemimpinan dari fondasi paling mendasar, yakni kepemimpinan terhadap diri sendiri. Menurutnya, seseorang tidak akan mampu memimpin orang lain secara efektif apabila belum mampu mengelola sikap, tindakan, emosi, dan tanggung jawab pribadi.
Mahathir menjelaskan bahwa seorang pemimpin yang baik bukan hanya individu yang menduduki sebuah posisi atau memperoleh kewenangan tertentu. Lebih dari itu, pemimpin harus memiliki kapasitas personal untuk memberikan pengaruh positif kepada lingkungan sekitarnya.
Seorang pemimpin ideal, menurutnya, harus mampu menjadi teladan, memiliki visi bersama, menginspirasi orang lain, memberdayakan anggota tim, menjunjung kejujuran, memiliki kompetensi, serta berani membawa perubahan.
“Pemimpin bukan hanya seseorang yang memiliki jabatan. Pemimpin adalah orang yang mampu memberikan contoh, memiliki visi bersama, menginspirasi dan memberdayakan orang lain, serta memiliki kejujuran dan kompetensi untuk membawa perubahan,” ujar Mahathir.
Dalam paparannya, Mahathir menempatkan kemampuan mengendalikan diri sebagai fondasi utama dalam membangun karakter seorang pemimpin.
Menurutnya, kepemimpinan harus dimulai dari dalam diri sebelum seseorang berusaha mengarahkan atau memimpin kelompok yang lebih besar. Pengendalian diri menjadi dasar untuk membangun sikap bertanggung jawab, konsisten, dan mampu menghadapi berbagai situasi.
“Menjadi pemimpin berarti berani mengambil kendali atas diri sendiri, bertanggung jawab atas tindakan yang kita lakukan, memiliki sikap positif, berani mengakui kesalahan, belajar dari kesalahan, dan memberikan apresiasi kepada orang lain ketika memang layak mendapatkannya,” tuturnya.
Mahathir menilai keberanian mengakui kesalahan bukanlah tanda kelemahan seorang pemimpin. Sebaliknya, hal tersebut merupakan bagian dari kedewasaan dalam kepemimpinan karena menunjukkan adanya kemauan untuk belajar dan memperbaiki diri.
Selain kemampuan personal, Mahathir menekankan pentingnya kemampuan membangun hubungan dan bekerja sama dalam sebuah organisasi.
Menurutnya, tidak ada pemimpin yang mampu mencapai tujuan organisasi seorang diri. Setiap pencapaian membutuhkan kontribusi anggota tim dengan kompetensi, peran, dan tanggung jawab masing-masing.
“Kesuksesan sebuah organisasi sangat bertumpu pada sinergi kelompok. Seorang pemimpin harus mampu membangun tim, menghubungkan potensi setiap anggota, dan menciptakan lingkungan yang memungkinkan semua orang berkontribusi,” jelasnya.
Mahathir menjelaskan bahwa tim yang solid membutuhkan sejumlah elemen penting. Di antaranya adalah adanya tujuan bersama yang dipahami seluruh anggota, pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas, komunikasi efektif, mekanisme pengambilan keputusan yang baik, serta hubungan personal yang positif.
Kondisi tersebut akan menciptakan lingkungan organisasi yang sehat sekaligus mendorong setiap anggota untuk berkontribusi secara optimal.
Dalam konteks organisasi kemahasiswaan, kemampuan membangun tim menjadi semakin penting karena mahasiswa akan berhadapan dengan beragam karakter, pemikiran, dan latar belakang. Karena itu, kepemimpinan perlu dibangun melalui komunikasi, kepercayaan, empati, dan kemampuan menghargai kontribusi setiap anggota.
Mahathir menegaskan bahwa proses menjadi seorang pemimpin tidak berlangsung secara instan. Kepemimpinan merupakan proses bertahap yang dimulai dari komitmen terhadap diri sendiri, kemudian berkembang menjadi kemampuan memengaruhi dan menginspirasi orang lain, hingga membangun tim yang mampu mencapai tujuan bersama.
“Leadership bukan hanya tentang memimpin orang lain, tetapi dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri. Setelah mampu memimpin diri sendiri, kita belajar memengaruhi dan menginspirasi orang lain, kemudian membangun tim yang solid untuk mencapai tujuan bersama,” pungkasnya.
Materi yang disampaikan Mahathir menjadi bagian dari rangkaian Leadership Education Program 2026 yang diselenggarakan Universitas Teknokrat Indonesia sebagai upaya membangun kapasitas kepemimpinan mahasiswa.
Program tersebut dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan manajerial, tetapi juga membentuk karakter, integritas, kemampuan komunikasi, kerja sama, pengambilan keputusan, dan keberanian mahasiswa untuk menjadi agen perubahan.
Universitas Teknokrat Indonesia menilai penguatan kapasitas kepemimpinan mahasiswa merupakan bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi dinamika dunia kerja, masyarakat, dan tantangan global.
Pengembangan karakter dan kompetensi kepemimpinan melalui LEP 2026 turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Program ini memperluas makna pendidikan dengan tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik, tetapi juga membangun keterampilan, karakter, komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan bekerja sama.
Kegiatan ini juga relevan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, karena kepemimpinan, kemampuan membangun tim, komunikasi, dan tanggung jawab merupakan kompetensi penting yang dibutuhkan generasi muda untuk memasuki dunia profesional dan berkontribusi secara produktif.
Selain itu, pembentukan pemimpin muda yang berintegritas dan mampu membangun organisasi yang efektif turut mendukung SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh melalui penguatan nilai tanggung jawab, transparansi, integritas, serta pengambilan keputusan yang berorientasi pada kepentingan bersama.
Melalui Leadership Education Program 2026, Universitas Teknokrat Indonesia terus memperkuat komitmennya untuk melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memimpin dirinya sendiri, menggerakkan orang lain, membangun kolaborasi, dan menciptakan dampak positif bagi masyarakat serta bangsa.