Bandar Lampung – Fenomena banjir yang kembali melanda berbagai wilayah di Kota Bandar Lampung menjadi alarm serius bagi ketahanan infrastruktur perkotaan, khususnya sektor transportasi. Banjir yang terjadi tidak lagi dapat dipandang sebagai kejadian musiman, melainkan indikasi adanya permasalahan sistemik dalam perencanaan dan pengelolaan kota. Hal tersebut disampaikan oleh dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Teknokrat Indonesia, Ir. Sari Anton, S.T., M.T., I.P.M., yang menilai bahwa kondisi ini mencerminkan lemahnya daya tahan infrastruktur terhadap tekanan lingkungan, terutama curah hujan yang semakin tinggi.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung, banjir terjadi di berbagai titik, mulai dari Sukarame, Way Halim, Rajabasa, hingga Tanjungkarang dan Kedamaian. Luasnya wilayah terdampak menunjukkan bahwa persoalan banjir telah menjadi isu kota yang kompleks dan memerlukan penanganan menyeluruh.
Dalam konteks transportasi, genangan air yang terjadi pada sejumlah ruas jalan berdampak langsung terhadap kinerja sistem mobilitas kota. Dengan total 509 ruas jalan sepanjang 478,024 kilometer di Bandar Lampung, diperkirakan sekitar 2–5 persen jaringan jalan mengalami dampak banjir.
Kondisi ini tidak hanya menyebabkan kemacetan dan gangguan distribusi logistik, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan. Jalan sebagai urat nadi kota menjadi terganggu fungsinya, sehingga aktivitas masyarakat pun ikut terdampak.
Lebih jauh, banjir tidak hanya berdampak pada permukaan jalan, tetapi juga mengancam struktur lapisan perkerasan. Air yang meresap ke dalam tanah menyebabkan penurunan daya dukung, melemahkan lapisan pondasi, serta mempercepat munculnya kerusakan seperti retak, gelombang, dan deformasi.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa jalan yang sering terendam air memiliki tingkat kerusakan yang jauh lebih cepat dibandingkan kondisi normal, serta membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama setelah banjir surut.
Permasalahan ini semakin kompleks dengan pesatnya pertumbuhan kendaraan yang tidak diimbangi dengan sistem drainase yang memadai. Banyak ruas jalan masih menggunakan pendekatan desain lama yang belum mempertimbangkan risiko banjir sebagai faktor utama.
Menurut Sari Anton, perubahan pendekatan dalam pembangunan infrastruktur menjadi sangat mendesak.
“Infrastruktur transportasi harus dirancang adaptif terhadap risiko lingkungan, termasuk banjir. Tidak cukup lagi hanya mengandalkan desain untuk kondisi normal,” ujarnya.
Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah penggunaan material stabilisasi seperti campuran semen pada lapisan pondasi jalan yang lebih tahan terhadap perubahan kadar air. Selain itu, perbaikan sistem drainase menjadi langkah krusial dalam menjaga ketahanan jalan.
Data menunjukkan bahwa kerusakan jalan pada wilayah dengan drainase buruk dapat mencapai 36 persen, sementara pada drainase yang baik hanya sekitar 2,6 persen. Hal ini menegaskan pentingnya sistem drainase dalam menjaga kualitas infrastruktur.
Selain berdampak pada infrastruktur, banjir juga membawa risiko pencemaran lingkungan akibat limpasan air yang mengandung polutan dari permukaan jalan. Oleh karena itu, pengelolaan air hujan harus menjadi bagian integral dari perencanaan transportasi dan pembangunan kota.
Pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat kebijakan melalui peningkatan kapasitas drainase, penerapan desain jalan tahan air, serta program pemeliharaan preventif secara berkelanjutan, terutama pada wilayah rawan genangan.
Dalam jangka panjang, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menciptakan sistem transportasi yang tangguh dan berkelanjutan.
“Kota yang tangguh bukanlah kota yang bebas banjir, tetapi kota yang mampu memastikan infrastrukturnya tetap berfungsi dalam kondisi ekstrem,” tegasnya.
Banjir yang terjadi saat ini seharusnya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perencanaan pembangunan kota. Tanpa perubahan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan kolaborasi lintas sektor, permasalahan yang sama akan terus berulang dengan dampak yang semakin besar.
Universitas Teknokrat Indonesia sebagai institusi pendidikan terus berperan aktif dalam memberikan kontribusi pemikiran dan solusi berbasis riset untuk mendukung pembangunan daerah yang lebih baik.
Kajian ini sejalan dengan komitmen Universitas Teknokrat Indonesia dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penguatan ketahanan infrastruktur transportasi yang adaptif terhadap perubahan lingkungan, serta SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui upaya menciptakan sistem perkotaan yang tangguh terhadap bencana. Selain itu, pendekatan terintegrasi dalam pengelolaan drainase dan lingkungan juga berkontribusi pada SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dengan meningkatkan kesiapsiagaan kota dalam menghadapi dampak perubahan iklim secara berkelanjutan.
Ayo bergabung bersama Universitas Teknokrat Indonesia!
Wujudkan masa depan Anda di kampus unggul dengan lingkungan akademik berkualitas dan berbasis inovasi. Daftarkan diri Anda sekarang melalui spmb.teknokrat.ac.id dan jadilah bagian dari generasi “Sang Juara”.
#DosenTerbaikdiLampung
#DosenTerbaikdiIndonesia