PENDAFTARAN
ID ID
EN EN

OPINI DOSEN TEKNOKRAT: Pencak Silat Menuju Olimpiade, Perluas Pengaruh Global dan Perkuat Profesionalisme Kompetisi

Dosen Pendidikan Olahraga Universitas Teknokrat Indonesia, Rachmi Marsheilla Aguss, menilai pencak silat membutuhkan strategi global yang terukur, pembinaan atlet berkelanjutan, serta tata kelola kompetisi profesional agar semakin dikenal dan berpeluang masuk ke Olimpiade.

Bandar Lampung – Pencak silat merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki sejarah panjang, filosofi mendalam, serta pencapaian membanggakan di dunia olahraga. Namun, hingga saat ini, pencak silat belum menjadi cabang olahraga yang dipertandingkan dalam Olimpiade. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk memperluas pengaruh pencak silat di tingkat internasional.

Baca Juga: MEMBANGGAKAN !! Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Raih Juara 1 Scrabble English Proficiency Awards 2026

Dalam opini yang ditulis Rachmi Marsheilla Aguss, dosen Program Studi S1 Pendidikan Olahraga Universitas Teknokrat Indonesia (UTI), upaya membawa pencak silat ke panggung Olimpiade tidak cukup dilakukan melalui kebanggaan terhadap identitas nasional. Diperlukan langkah nyata untuk menjadikan pencak silat sebagai olahraga yang dikenal, diminati, dan dipertandingkan secara luas oleh masyarakat dunia.

Menurutnya, pencak silat memiliki modal budaya dan prestasi yang kuat. Akan tetapi, potensi tersebut perlu didukung oleh pengembangan organisasi internasional, pembinaan atlet yang berkelanjutan, standardisasi pertandingan, serta strategi promosi yang mampu menjangkau generasi muda di berbagai negara.

Pencak Silat Bukan Sekadar Olahraga, tetapi Warisan Budaya Bangsa

Bagi Indonesia, pencak silat bukan sekadar seni bela diri atau cabang olahraga kompetitif. Di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur yang membentuk karakter, seperti disiplin, keberanian, pengendalian diri, sportivitas, dan penghormatan terhadap sesama.

Nilai-nilai tersebut menjadikan pencak silat memiliki keunggulan yang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan fisik, tetapi juga pendidikan karakter dan pembentukan kepribadian atlet.

Indonesia pun memiliki pengalaman panjang dalam membina atlet serta menyelenggarakan berbagai kejuaraan pencak silat. Prestasi di tingkat regional dan internasional menunjukkan bahwa pencak silat memiliki potensi untuk terus berkembang sebagai olahraga kompetitif.

Namun, modal budaya, pengalaman pembinaan, dan prestasi atlet tersebut perlu diterjemahkan menjadi strategi pengembangan yang lebih luas. Pengakuan terhadap pencak silat sebagai warisan budaya tidak serta-merta menjamin penerimaannya sebagai cabang olahraga Olimpiade.

Keberhasilan dalam kompetisi internasional, popularitas di berbagai negara, dan pengakuan budaya merupakan aspek yang saling mendukung, tetapi memiliki ukuran serta tantangan yang berbeda.

Karena itu, menurut Rachmi, tantangan utama pencak silat bukan hanya memperoleh pengakuan internasional, melainkan membangun ekosistem olahraga yang mampu membuatnya berkembang secara berkelanjutan di berbagai belahan dunia.

Sudah Hadir di 83 Negara, tetapi Popularitas Masih Menjadi Tantangan

Dokumen Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) tahun 2025 menyebutkan bahwa asosiasi pencak silat telah terbentuk di 83 negara. Capaian ini menunjukkan bahwa penyebaran pencak silat telah melampaui batas geografis Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

Meski demikian, dokumen tersebut juga mengidentifikasi rendahnya minat terhadap pencak silat di sejumlah negara sebagai salah satu hambatan menuju Olimpiade (Kemenpora, 2025).

Data tersebut menunjukkan bahwa keberadaan organisasi di berbagai negara belum tentu mencerminkan perkembangan olahraga yang merata. Tidak semua federasi memiliki jumlah atlet yang memadai, menyelenggarakan kompetisi secara rutin, mendapatkan dukungan masyarakat, atau mampu menarik perhatian penonton.

Oleh karena itu, strategi pengembangan pencak silat tidak cukup berorientasi pada penambahan jumlah negara anggota. Hal yang lebih mendasar ialah memastikan bahwa federasi di negara-negara tersebut berfungsi secara aktif, memiliki program pembinaan yang berkesinambungan, dan mampu menyelenggarakan kompetisi secara konsisten.

Pengembangan atlet, peningkatan kualitas pelatih, pembentukan klub, serta keterlibatan sekolah dan perguruan tinggi perlu menjadi bagian dari strategi internasionalisasi pencak silat.

Dengan demikian, jaringan organisasi yang telah terbentuk dapat berkembang menjadi ekosistem olahraga yang nyata, bukan sekadar keanggotaan administratif.

Memadukan Kekuatan Budaya dengan Manajemen Olahraga Modern

Pencak silat memiliki sejumlah keunggulan yang dapat menjadi modal untuk memperluas penerimaannya di tingkat global.

Identitas budaya yang khas, gerakan yang sarat makna, dan filosofi yang mendalam membuat pencak silat memiliki karakter tersendiri dibandingkan dengan seni bela diri lainnya. Keragaman tekniknya juga memberikan kekayaan dalam pengembangan olahraga, sementara nilai disiplin, penghormatan, dan tanggung jawab dapat mendukung pembentukan karakter atlet.

Selain itu, Indonesia telah memiliki pengalaman melahirkan atlet pencak silat berprestasi dalam berbagai kejuaraan internasional, termasuk SEA Games dan Piala Dunia.

Namun, keunggulan tersebut perlu diimbangi dengan tata kelola olahraga yang profesional. Pembinaan atlet, pengelolaan organisasi, penyelenggaraan pertandingan, dan strategi pemasaran harus dikembangkan secara terpadu.

Kompetisi internasional perlu diselenggarakan secara rutin dengan kualitas pelaksanaan yang konsisten. Dengan semakin banyaknya pertandingan yang dapat diakses masyarakat dunia, peluang untuk memperkenalkan pencak silat kepada atlet, penonton, dan generasi muda juga semakin terbuka.

Profesionalisme pengelolaan menjadi penting agar pencak silat tidak hanya dipandang sebagai pertunjukan seni atau representasi budaya, tetapi juga sebagai olahraga kompetitif yang memiliki sistem pertandingan kredibel dan daya tarik bagi penonton internasional.

Baca Juga: SANGAT MEMBANGGAKAN !! Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Raih Juara 1 Nasional ALSA English Challenge 2026

Transparansi Penilaian dan Keselamatan Atlet Harus Menjadi Prioritas

Salah satu aspek penting dalam pengembangan pencak silat ialah memastikan bahwa pertandingan dapat dipahami oleh masyarakat luas.

Sistem penilaian perlu dirancang secara transparan, jelas, dan konsisten. Penonton harus dapat memahami dasar penentuan pemenang, sedangkan atlet perlu memperoleh kepastian bahwa setiap pertandingan berlangsung secara adil.

Kualitas wasit dan juri, konsistensi penerapan peraturan, serta pemanfaatan teknologi pendukung dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat integritas kompetisi.

Selain keadilan pertandingan, keselamatan atlet harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Standar keselamatan perlu diterapkan secara konsisten pada berbagai tingkatan kompetisi, mulai dari kejuaraan nasional hingga internasional.

Upaya tersebut penting untuk membangun kepercayaan terhadap pencak silat sebagai olahraga yang dikelola secara profesional dan bertanggung jawab.

Dengan memadukan kekuatan budaya, nilai-nilai luhur, sistem penilaian yang kredibel, dan standar keselamatan yang memadai, pencak silat memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh perhatian dan penerimaan dari komunitas olahraga internasional.

Kriteria Olimpiade Menuntut Daya Tarik Global dan Tata Kelola yang Kuat

Dalam upaya menuju Olimpiade, pencak silat perlu memperhatikan berbagai aspek yang menjadi pertimbangan dalam pengembangan dan evaluasi cabang olahraga di tingkat internasional.

Mengacu pada pembahasan mengenai kriteria Olimpiade Los Angeles 2028 oleh Komite Olimpiade Internasional atau International Olympic Committee (IOC), sejumlah aspek yang relevan meliputi daya tarik global, keselamatan atlet, kesetaraan gender, relevansi bagi generasi muda, integritas kompetisi, serta biaya dan kompleksitas penyelenggaraan (IOC, 2022).

Kriteria tersebut menunjukkan bahwa pencak silat perlu membangun daya tarik yang melampaui identitas nasional. Olahraga ini harus mampu menunjukkan relevansinya bagi masyarakat dunia, baik sebagai olahraga kompetitif maupun sebagai sarana pengembangan karakter.

Karena itu, strategi menuju Olimpiade perlu bergeser dari promosi yang hanya bersifat seremonial menuju pengembangan ekosistem olahraga yang nyata dan terukur.

Keberhasilan tidak cukup ditunjukkan melalui pertunjukan pencak silat dalam festival budaya atau forum internasional. Pengembangan yang lebih mendasar diperlukan agar semakin banyak negara memiliki atlet aktif, kompetisi rutin, pelatih berkualitas, dan masyarakat yang tertarik mengikuti pertandingan.

Baca Juga: BERDAMPAK NYATA !! Dosen Universitas Teknokrat Indonesia Perkuat Literasi, Numerasi, dan Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 2 Metro

Empat Strategi Memperkuat Peluang Pencak Silat Menuju Olimpiade

Untuk memperluas peluang pencak silat diterima di panggung olahraga dunia, terdapat empat strategi utama yang perlu menjadi perhatian bersama.

1. Memperkuat pembinaan pencak silat di berbagai negara

Indonesia perlu mengembangkan diplomasi olahraga yang berorientasi pada kolaborasi nyata dengan federasi nasional, universitas, sekolah, klub, dan penyelenggara kompetisi di berbagai negara.

Negara yang telah memiliki federasi pencak silat perlu didorong untuk mengembangkan program pembinaan atlet secara berkelanjutan dan menyelenggarakan kejuaraan secara konsisten.

Keberhasilan internasionalisasi pencak silat seharusnya tidak hanya diukur berdasarkan jumlah negara yang menjadi anggota organisasi. Aktivitas federasi, jumlah atlet aktif, kualitas pembinaan, serta frekuensi kompetisi perlu menjadi indikator yang diperhatikan.

Melalui pendekatan ini, penyebaran pencak silat dapat diikuti dengan peningkatan kualitas dan keberlanjutan pembinaannya.

2. Menstandarkan sistem pertandingan dan meningkatkan profesionalisme

Aturan pertandingan, sistem penilaian, kualitas wasit dan juri, serta standar keselamatan atlet perlu terus diperkuat.

Sistem pertandingan yang jelas dan konsisten akan membantu atlet memahami standar kompetisi sekaligus memberikan kepastian kepada penonton mengenai dasar penentuan hasil pertandingan.

Penggunaan teknologi pendukung yang sesuai juga dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan.

Kepercayaan terhadap integritas pertandingan merupakan modal penting bagi pencak silat untuk membangun reputasi di tingkat internasional.

3. Membuat pencak silat lebih menarik bagi generasi muda dunia

Pencak silat perlu dikembangkan melalui pendekatan promosi yang lebih modern dan mudah diakses masyarakat internasional.

Siaran digital, penyelenggaraan kompetisi berkualitas, konten edukasi, serta publikasi atlet dan pertandingan melalui berbagai platform dapat membantu memperluas jangkauan audiens.

Promosi juga perlu dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya ketika berlangsung pertunjukan seni atau perayaan budaya.

Pencak silat harus hadir sebagai olahraga yang menarik untuk disaksikan, dipelajari, dan ditekuni. Dengan demikian, generasi muda di berbagai negara memiliki kesempatan untuk mengenal sekaligus terlibat dalam pengembangannya.

4. Memperkuat kolaborasi pemerintah, organisasi olahraga, pendidikan, dan sektor swasta

Upaya menuju Olimpiade membutuhkan koordinasi yang kuat antara pemerintah, Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa (PERSILAT), Komite Olimpiade Indonesia, institusi pendidikan, dan sektor swasta.

Program Road to Olympic perlu disusun dengan arah yang jelas, target terukur, pembagian tanggung jawab, serta evaluasi berkala.

Penggunaan anggaran publik juga perlu disertai indikator hasil yang dapat dievaluasi, seperti peningkatan jumlah atlet aktif di luar negeri, frekuensi kompetisi internasional, perluasan jangkauan audiens, dan peningkatan kualitas tata kelola organisasi.

Kolaborasi tersebut penting agar pengembangan pencak silat tidak berjalan secara terpisah-pisah, melainkan menjadi gerakan bersama yang berorientasi pada tujuan jangka panjang.

Target Olimpiade 2032 Harus Diikuti Program yang Terukur

Perjalanan pencak silat menuju Olimpiade tentu tidak sederhana. Meskipun demikian, Indonesia telah memiliki modal awal berupa tradisi budaya, pengalaman kompetisi, sumber daya manusia, dan jaringan federasi internasional.

Tantangan berikutnya ialah mengubah modal tersebut menjadi program pengembangan yang konsisten, terukur, dan berkelanjutan.

Dokumen program Kemenpora yang mencantumkan sasaran Olimpiade 2032 dapat menjadi salah satu pedoman jangka panjang dalam merancang strategi pengembangan pencak silat. Namun, target tersebut perlu dipahami sebagai sasaran yang harus diperjuangkan melalui proses evaluasi dan pemenuhan persyaratan, bukan sebagai kepastian bahwa pencak silat akan dipertandingkan pada Olimpiade tahun tersebut.

Karena itu, setiap program pengembangan perlu dilengkapi dengan target antara yang realistis, indikator pencapaian, dan evaluasi berkala. Dengan cara ini, kemajuan pencak silat dapat diukur secara objektif dan strategi pengembangan dapat disesuaikan dengan tantangan yang dihadapi.

Keberlanjutan program akan lebih menentukan daripada sekadar besarnya antusiasme yang muncul dalam suatu kejuaraan atau forum organisasi.

Baca Juga: LUAR BIASA !! Universitas Teknokrat Indonesia Gelar Teknokrat Futsal Competition 2026 Diikuti 53 Tim se-Lampung

Pencak Silat sebagai Representasi Budaya Indonesia di Panggung Dunia

Upaya membawa pencak silat menuju Olimpiade bukan semata-mata tentang menambah peluang perolehan medali bagi Indonesia. Lebih dari itu, pencak silat memiliki kesempatan untuk memperkenalkan budaya bangsa kepada masyarakat dunia melalui olahraga yang profesional, inklusif, dan kompetitif.

Identitas budaya merupakan kekuatan penting yang harus tetap dipertahankan. Namun, kekuatan tersebut perlu dipadukan dengan tata kelola modern, pembinaan atlet yang konsisten, kompetisi yang berkualitas, dan strategi komunikasi yang relevan dengan perkembangan zaman.

Pencak silat tidak akan dikenal secara global hanya karena Indonesia menginginkannya. Pengakuan yang lebih luas perlu dibangun melalui bertambahnya negara yang aktif membina atlet, meningkatnya minat masyarakat untuk menyaksikan pertandingan, serta tumbuhnya kepercayaan dunia terhadap kualitas dan integritas kompetisinya.

Oleh karena itu, perjalanan menuju Olimpiade menuntut perubahan cara pandang. Indonesia tidak cukup hanya memperjuangkan agar pencak silat diakui secara internasional. Lebih jauh, Indonesia perlu membangun pencak silat sebagai olahraga yang benar-benar diminati, dipraktikkan, dan memiliki tempat dalam ekosistem olahraga global.

Jalan menuju Olimpiade harus dimulai dari penguatan fondasi hari ini: pembinaan yang berkelanjutan, kompetisi yang profesional, tata kelola yang kredibel, dan kolaborasi internasional yang nyata. Dengan langkah tersebut, pencak silat berpeluang memperluas pengaruhnya sekaligus membawa nilai-nilai luhur budaya Indonesia ke panggung dunia.

Baca Juga: LUAR BIASA !! Mahasiswa dan Alumni Teknokrat Tampil Sebagai International Speaker Dalam Acara International Culturual Exchange Programe 2026

#DosenBerdampak
#DosenTerbaikdiLampung

Comments

KEREN !! Universitas Teknokrat Indonesia dan Radisson Lampung Kedaton Gelar Career Fest 2026, Buka Peluang Magang bagi Mahasiswa Teknokrat – Universitas Teknokrat Indonesia

October 28, 2026 at 10:08 am

[…] Baca Juga: OPINI DOSEN TEKNOKRAT: Pencak Silat Menuju Olimpiade, Perluas Pengaruh Global dan Perkuat Profesiona… […]