ID
EN
Usung inovasi Smart Composter dan paving block berbahan sampah plastik, tim mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia akan mengembangkan ekonomi sirkular berbasis masyarakat untuk mengatasi pencemaran sungai di Desa Khepong Jaya, Kabupaten Pesawaran.
Bandar Lampung – Kabar membanggakan datang dari Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer (FTIK) Universitas Teknokrat Indonesia (UTI). Tim mahasiswa yang dimotori Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FTIK bersama dosen pendamping berhasil lolos pendanaan Program Aksara Mahasiswa skema Aksara Sirkular dalam program Mahasiswa Berdampak yang diselenggarakan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tahun 2026.
Program tersebut memperoleh pendanaan sebesar Rp111 juta untuk melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis inovasi teknologi dan ekonomi sirkular di Desa Khepong Jaya, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung.
Mengusung judul “Penguatan Ekonomi Sirkular Berbasis Masyarakat melalui Inovasi Smart Composter dan Paving Block Berbahan Plastik untuk Mengatasi Kebiasaan Pembuangan Sampah ke Sungai”, program ini dirancang untuk menjawab persoalan sampah rumah tangga yang selama ini mencemari sungai di wilayah tersebut.
Melalui pendekatan teknologi tepat guna dan pemberdayaan masyarakat, tim Universitas Teknokrat Indonesia akan mendorong perubahan pola pengelolaan sampah dari kebiasaan membuang menjadi kegiatan memilah, mengolah, dan memanfaatkan kembali sampah sebagai produk bernilai ekonomi.
Program ini tidak hanya berorientasi pada pengurangan pencemaran lingkungan, tetapi juga diarahkan untuk membangun unit usaha ekonomi sirkular yang dikelola secara mandiri oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dengan demikian, sampah diharapkan dapat menjadi sumber daya produktif yang memberikan manfaat lingkungan sekaligus membuka peluang pendapatan bagi masyarakat.
Keberhasilan memperoleh pendanaan tersebut merupakan kelanjutan dari proses pendampingan masyarakat yang telah dilakukan mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia.
Pada Juli 2026, BEM FTIK bersama himpunan mahasiswa dari sejumlah program studi telah melaksanakan kegiatan bina desa di Khepong Jaya. Kegiatan tersebut menjangkau berbagai unsur masyarakat, mulai dari perangkat kantor desa, lingkungan sekolah, hingga organisasi kepemudaan atau karang taruna.
Melalui interaksi dan pengamatan langsung di lapangan, tim mengidentifikasi persoalan sampah yang mencemari sungai sebagai salah satu masalah mendesak yang perlu ditangani bersama.
Sampah rumah tangga yang dibuang tanpa melalui proses pemilahan menjadi tantangan tersendiri bagi pengelolaan lingkungan desa. Di sisi lain, keterbatasan fasilitas pengolahan sampah membuat potensi sampah organik dan anorganik belum dapat dimanfaatkan secara optimal.
Dalam bahan program yang disusun tim, tingkat pemilahan sampah rumah tangga di Khepong Jaya diperkirakan baru mencapai 15–20 persen, sedangkan kapasitas pengolahan sampah di desa disebut belum tersedia.
Kondisi tersebut mendorong tim untuk merancang solusi yang tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi juga menghadirkan fasilitas pengolahan, sistem pengelolaan, serta mekanisme pemberdayaan masyarakat yang dapat terus berjalan setelah program berakhir.
Secara lebih luas, persoalan ini juga berkaitan dengan tantangan pengelolaan sampah di tingkat nasional. Karena itu, inisiatif yang dilakukan mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia diharapkan dapat menjadi contoh penerapan inovasi kampus dalam mendukung pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Sebagai solusi, tim Universitas Teknokrat Indonesia merancang pengembangan unit usaha ekonomi sirkular yang akan ditempatkan dan dikelola melalui BUMDes Khepong Jaya.
Program ini mengintegrasikan tiga perangkat utama untuk mengolah sampah organik dan anorganik menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Pertama, Composter Organik berbasis Internet of Things (IoT). Perangkat ini dirancang untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos. Integrasi teknologi IoT juga mendukung pemantauan proses pengolahan sehingga operasionalnya dapat dikelola secara lebih terukur.
Kedua, Composter Anorganik. Perangkat ini digunakan untuk mencacah sampah plastik menjadi serpihan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam proses produksi berikutnya.
Ketiga, Mesin Press. Mesin ini digunakan untuk mencetak serpihan plastik menjadi paving block berbentuk huruf T sesuai rancangan program.
Ketiga perangkat tersebut dirancang sebagai satu kesatuan proses pengolahan sampah. Sampah organik diarahkan menjadi kompos, sedangkan sampah plastik diolah menjadi bahan baku produk konstruksi. Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi sampah yang berpotensi mencemari lingkungan sekaligus menciptakan peluang usaha baru bagi desa.
Melalui sistem tersebut, pengelolaan sampah tidak lagi hanya dipandang sebagai kegiatan pembuangan, melainkan sebagai rangkaian proses produksi yang memungkinkan material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai untuk dimanfaatkan kembali.
Keunggulan program ini terletak pada pemanfaatan hasil riset dan inovasi yang telah dikembangkan di lingkungan Universitas Teknokrat Indonesia.
Composter Organik yang akan digunakan merupakan hasil riset dosen UTI yang telah memperoleh Paten Sederhana Nomor IDS000011362. Teknologi tersebut juga telah diimplementasikan di CV Sapi Sport sejak November 2024.
Sementara itu, Composter Anorganik telah terdaftar sebagai permohonan paten sederhana. Adapun formula campuran untuk pembuatan paving block mengacu pada riset Tekno Plasting yang dikembangkan mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Teknokrat Indonesia.
Untuk memperkuat tata kelola dan keberlanjutan operasional, tim juga akan membangun dasbor pemantauan berbasis IoT serta aplikasi pencatatan keuangan BUMDes berbasis web.
Dasbor pemantauan diharapkan membantu pengelola memantau proses operasional perangkat, sedangkan aplikasi keuangan akan mendukung pencatatan transaksi dan pengelolaan usaha secara lebih tertib.
Kombinasi teknologi pengolahan sampah, sistem pemantauan, dan pencatatan keuangan tersebut menjadi bagian penting dari pendekatan ekonomi sirkular yang dikembangkan. Dengan dukungan teknologi dan tata kelola yang memadai, BUMDes diharapkan mampu mengoperasikan unit usaha secara mandiri dan berkelanjutan.
Ketua tim dosen, Dr.Sc. Dedi Darwis, S.Kom., M.Kom., CDSP., yang juga menjabat sebagai Dekan FTIK Universitas Teknokrat Indonesia, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah.
Menurutnya, sampah yang selama ini menjadi sumber pencemaran lingkungan memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat apabila didukung teknologi, pengelolaan, dan keterlibatan masyarakat.
“Kami ingin sampah yang selama ini mencemari sungai berubah menjadi sumber pendapatan desa. Teknologinya sudah teruji, dan yang terpenting, BUMDes nantinya mampu mengoperasikannya secara mandiri setelah program selesai,” ujar Dedi.
Ia menekankan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari tersedianya peralatan pengolahan sampah, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dalam menjalankan sistem pengelolaan secara berkelanjutan.
Karena itu, keterlibatan BUMDes dan masyarakat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Teknologi yang disediakan perlu didukung perubahan perilaku, pembagian peran yang jelas, serta pengelolaan usaha yang baik agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Melalui pendekatan tersebut, Universitas Teknokrat Indonesia berharap inovasi yang dikembangkan tidak berhenti sebagai hasil penelitian atau purwarupa, tetapi dapat diterapkan secara nyata untuk menjawab persoalan lingkungan dan mendukung perekonomian desa.
Selain mengembangkan fasilitas pengolahan sampah, program ini juga mengedepankan pendekatan edukasi untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat, khususnya generasi muda.
Tim akan menggandeng Karang Taruna Desa Khepong Jaya sebagai mitra penggerak perubahan perilaku warga. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah mengadaptasi permainan edukasi tiga dimensi atau 3D bertajuk RAKASA, karya mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia, menjadi Game Edukasi Kebersihan Sungai dengan latar cerita Desa Khepong Jaya.
Dalam permainan tersebut, pemain akan diajak menyelesaikan berbagai misi yang berkaitan dengan penanganan pencemaran sungai. Selain memberikan pengalaman bermain, permainan ini dirancang untuk mengenalkan pentingnya memilah sampah organik dan anorganik serta memahami dampak kebiasaan membuang sampah sembarangan.
Penggunaan permainan edukasi menjadi alternatif untuk menyampaikan pesan lingkungan dengan cara yang lebih menarik dan dekat dengan kehidupan generasi muda. Pendekatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran menjaga kebersihan sungai sekaligus memperkuat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah.
Karang Taruna juga akan berperan dalam pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Lingkungan dan pengelolaan titik pengumpulan atau drop point sampah terpilah. Fasilitas tersebut diharapkan memudahkan warga mengumpulkan sampah berdasarkan jenisnya sebelum dibawa ke unit pengolahan.
Dengan menggabungkan teknologi pengolahan, edukasi digital, dan gerakan kepemudaan, program ini dirancang untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Ketua BEM FTIK Universitas Teknokrat Indonesia, Ni Made Wiki Purwaningsih, yang juga menjadi ketua tim mahasiswa dalam program ini, mengungkapkan kebanggaannya atas keberhasilan tim memperoleh pendanaan.
Menurutnya, kesempatan tersebut menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab bagi mahasiswa untuk membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di bangku kuliah dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Ini bukti bahwa mahasiswa bisa memberi dampak nyata. Kami tidak hanya datang membawa alat, tetapi juga ingin mengajak pemuda desa menjadi motor gerakan berhenti membuang sampah ke sungai,” tuturnya.
Ia berharap keterlibatan mahasiswa dalam program ini dapat memperkuat kepedulian terhadap persoalan lingkungan sekaligus menumbuhkan kemampuan bekerja sama dengan masyarakat dalam mencari solusi.
Bagi tim mahasiswa, program ini juga menjadi kesempatan untuk menerapkan ilmu lintas disiplin, mulai dari teknologi informasi, pengembangan perangkat, pengelolaan sistem informasi, teknik sipil, hingga akuntansi.
Melalui kolaborasi tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh pengalaman teknis, tetapi juga mengembangkan kemampuan komunikasi, pemecahan masalah, manajemen program, dan pemberdayaan masyarakat.
Program Aksara Sirkular ini melibatkan 25 mahasiswa dari enam program studi, yaitu Informatika, Teknik Komputer, Sistem Informasi, Teknologi Informasi, Teknik Sipil, dan Akuntansi.
Keterlibatan lintas program studi memungkinkan setiap mahasiswa berkontribusi sesuai dengan bidang keahliannya. Mahasiswa bidang teknologi dapat mendukung pengembangan sistem dan pemantauan, mahasiswa Teknik Sipil berkontribusi pada aspek material dan paving block, sedangkan mahasiswa Akuntansi dapat mendukung pengelolaan administrasi serta pencatatan keuangan unit usaha.
Setiap mahasiswa menjalankan minimal 160 Jam Kerja Efektif Mahasiswa (JKEM) dan berpeluang memperoleh rekognisi hingga tiga satuan kredit semester (SKS), sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pelaksanaan program didampingi tiga dosen lintas bidang keahlian, yakni:
1. Dr.Sc. Dedi Darwis, S.Kom., M.Kom., CDSP. – bidang Teknologi Informasi.
2. Arniza Fitri, S.T., M.Sc., Ph.D. – bidang Teknik Sipil.
3. Dr. Tri Darma Rosmala Sari, M.S.Ak. – bidang Ekonomi dan Akuntansi.
Kolaborasi dosen dan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu tersebut menjadi modal penting dalam memastikan solusi yang diterapkan tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga didukung tata kelola usaha dan keterlibatan masyarakat.
Untuk memastikan pelaksanaan program memiliki arah yang jelas, tim menetapkan sejumlah target yang dapat dievaluasi selama kegiatan berlangsung.
Dari sisi operasional, BUMDes Khepong Jaya ditargetkan mampu mengolah sedikitnya 150 kilogram sampah organik menjadi kompos dan 80 kilogram sampah plastik menjadi bahan baku paving block setiap bulan.
Program ini juga menargetkan penjualan awal produk ekonomi sirkular dengan nilai minimal Rp3 juta. Target tersebut menjadi bagian dari upaya membangun model usaha yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi desa sekaligus mendukung keberlanjutan pengolahan sampah.
Sementara itu, dari sisi partisipasi masyarakat, tingkat pemilahan sampah rumah tangga yang diperkirakan berada pada kisaran 15–20 persen ditargetkan meningkat menjadi minimal 40 persen rumah tangga di wilayah cakupan drop point.
Pencapaian target tersebut akan bergantung pada keterlibatan warga, konsistensi pemilahan sampah dari sumbernya, kesiapan operasional perangkat, serta kemampuan BUMDes dalam mengelola produksi dan pemasaran produk.
Dengan indikator yang terukur, pelaksanaan program diharapkan dapat dievaluasi berdasarkan perubahan perilaku masyarakat, jumlah sampah yang berhasil diolah, dan perkembangan usaha ekonomi sirkular yang dibangun.
Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H. Mahathir Muhammad, S.E., M.M., menyambut positif keberhasilan BEM FTIK dan tim mahasiswa dalam memperoleh pendanaan Program Aksara Mahasiswa Berdampak 2026.
Menurutnya, keberhasilan tersebut mencerminkan potensi mahasiswa dalam mengembangkan gagasan inovatif yang berangkat dari persoalan nyata di masyarakat. Melalui pendampingan dosen dan kolaborasi lintas program studi, gagasan tersebut dapat dikembangkan menjadi solusi yang menggabungkan penerapan teknologi, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ekonomi lokal.
“Universitas Teknokrat Indonesia mengapresiasi keberhasilan BEM FTIK dan seluruh tim mahasiswa yang berhasil memperoleh pendanaan Program Aksara Mahasiswa Berdampak 2026. Capaian ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga diharapkan mampu menghadirkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat,” ujar Mahathir.
Ia menilai, pengembangan Smart Composter dan paving block berbahan sampah plastik merupakan contoh bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diarahkan untuk mendukung penyelesaian persoalan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat desa.
“Kami berharap program ini dapat dilaksanakan secara optimal dengan melibatkan pemerintah desa, BUMDes, karang taruna, dan masyarakat. Keberhasilan program bukan hanya dilihat dari tersedianya teknologi, tetapi juga dari keberlanjutan pengelolaannya, perubahan perilaku warga, dan manfaat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat,” lanjutnya.
Mahathir menegaskan bahwa Universitas Teknokrat Indonesia akan terus mendorong mahasiswa untuk aktif berinovasi, berkolaborasi lintas disiplin, serta menerapkan ilmu yang diperoleh di kampus melalui kegiatan yang memberikan dampak nyata.
“Semangat kampus berdampak adalah menghadirkan ilmu pengetahuan dan inovasi yang tidak berhenti di ruang kuliah atau laboratorium, tetapi mampu memberikan solusi bagi masyarakat. Kami berharap program ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, berinovasi, dan berkontribusi bagi kemajuan Lampung serta Indonesia,” tutupnya.
Program Aksara Sirkular yang dikembangkan Universitas Teknokrat Indonesia di Desa Khepong Jaya juga diarahkan untuk mendukung agenda pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam pengelolaan sampah, perlindungan lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Inisiatif ini disebut selaras dengan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) yang tengah dilakukan Pemerintah Kabupaten Pesawaran. Sinergi tersebut berpotensi memperkuat upaya pengelolaan sampah melalui pemilahan dari sumber, pengolahan material, serta pemanfaatan kembali sampah menjadi produk bernilai guna.
Dari perspektif Sustainable Development Goals (SDGs), program ini mendukung beberapa tujuan utama.
SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Pengolahan sampah organik menjadi kompos dan pemanfaatan sampah plastik sebagai bahan baku paving block mendorong penggunaan sumber daya secara lebih efisien serta mengurangi material yang berakhir sebagai limbah.
SDG 15: Ekosistem Daratan. Upaya mengurangi pembuangan sampah ke sungai merupakan bagian dari peningkatan kepedulian terhadap lingkungan dan pencegahan pencemaran yang dapat berdampak pada ekosistem. Pelaksanaan program juga diharapkan menumbuhkan perilaku masyarakat yang lebih bertanggung jawab dalam menjaga kebersihan lingkungan.
SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Pengembangan unit usaha ekonomi sirkular melalui BUMDes berpotensi membuka peluang pendapatan lokal dan mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi berbasis pemanfaatan kembali sumber daya.
Selain itu, program ini sejalan dengan agenda Asta Cita dalam penguatan ekonomi kerakyatan dan pengembangan ekonomi hijau melalui pemberdayaan masyarakat, pemanfaatan inovasi, serta penciptaan nilai ekonomi dari pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.
Lolosnya tim BEM FTIK Universitas Teknokrat Indonesia dalam Program Aksara Mahasiswa Berdampak 2026 menjadi capaian yang memperkuat kontribusi mahasiswa dalam penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk masyarakat.
Melalui pendanaan Rp111 juta, program ini akan mengintegrasikan inovasi pengolahan sampah, teknologi digital, edukasi lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat di Desa Khepong Jaya. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku warga sekaligus membangun sistem pengelolaan sampah yang produktif dan berkelanjutan.
Keberhasilan program nantinya tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang diterapkan, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat mengelola fasilitas, partisipasi warga dalam memilah sampah, serta keberlanjutan unit usaha yang dibangun melalui BUMDes.
Universitas Teknokrat Indonesia terus mendorong lahirnya inovasi mahasiswa yang berangkat dari kebutuhan masyarakat dan dikembangkan melalui kolaborasi lintas disiplin. Dengan semangat tersebut, kampus berupaya memastikan bahwa pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dapat berjalan beriringan untuk menghasilkan manfaat yang nyata.
Universitas Teknokrat Indonesia — Kampus Berdampak, Kampusnya Sang Juara!
Comments
MENDUNIA !! Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Ditetapkan sebagai Chair Professor di Dua Universitas Korea Selatan - Universitas Teknokrat Indonesia
[…] Baca Juga: LUAR BIASA !! BEM FTIK Universitas Teknokrat Indonesia Lolos Program Aksara Mahasiswa Berdampak Kemd… […]