ID
EN
Hadirkan Kepala Balai Bahasa Provinsi Lampung, Kuliah Umum Bertema “Pembinaan Bahasa bagi Generasi Muda” Dorong Budaya Membaca, Kecintaan terhadap Bahasa Indonesia, dan Penguasaan Bahasa Asing di Era Global
Bandar Lampung – Universitas Teknokrat Indonesia (UTI), yang dikenal sebagai ASEAN’s Best Private University dan perguruan tinggi swasta terbaik di luar Jawa, terus memperkuat komitmennya sebagai kampus berdampak melalui kolaborasi di bidang pendidikan dan kebahasaan. Bekerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Lampung, Universitas Teknokrat Indonesia menyelenggarakan Kuliah Umum Kebahasaan bertema “Pembinaan Bahasa bagi Generasi Muda” di Auditorium A Universitas Teknokrat Indonesia, Senin (5/10/2026).
Kegiatan ini diikuti sivitas akademika, mahasiswa, dan dosen Universitas Teknokrat Indonesia. Penyelenggaraan kuliah umum tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran generasi muda mengenai pentingnya literasi, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta kemampuan berbahasa yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tantangan global.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memiliki kompetensi akademik dan teknologi, tetapi juga mampu membangun budaya membaca, berpikir kritis, menyampaikan gagasan secara efektif, serta menjaga identitas kebangsaan melalui penggunaan bahasa Indonesia.
Kuliah umum menghadirkan Kepala Balai Bahasa Provinsi Lampung, Drs. Muhammad Mukhlis, M.Hum., sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa budaya membaca merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan mampu mengikuti perkembangan zaman.
Menurutnya, kebiasaan membaca membantu masyarakat memperluas wawasan, memahami berbagai perubahan, serta memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan kehidupan. Sebaliknya, rendahnya minat membaca dapat membuat seseorang kesulitan mengikuti perkembangan informasi dan ilmu pengetahuan.
Pesan tersebut terangkum dalam pernyataan yang disampaikan selama kegiatan, yakni “Kalau masyarakat tidak membaca, akan tertinggal.”
Pesan ini menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa kemampuan membaca tidak cukup hanya dimaknai sebagai kegiatan mengenali tulisan. Lebih dari itu, membaca juga mencakup kemampuan memahami informasi, menilai kredibilitas sumber, mengembangkan pemikiran kritis, dan mengolah pengetahuan menjadi gagasan yang bermanfaat.
Dalam lingkungan perguruan tinggi, budaya membaca memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan pembelajaran, penelitian, dan pengembangan inovasi. Mahasiswa yang memiliki kebiasaan membaca akan lebih terbuka terhadap perspektif baru serta memiliki bekal yang lebih kuat untuk menyampaikan argumentasi secara logis dan bertanggung jawab.
Pembahasan dalam kuliah umum juga menyoroti kedudukan bahasa Indonesia dalam sejarah perjuangan bangsa. Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian penting dari identitas nasional yang mempersatukan masyarakat Indonesia dengan latar belakang suku, budaya, dan bahasa daerah yang beragam.
Semangat tersebut tercermin dalam peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, ketika para pemuda Indonesia menyatakan komitmen untuk menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Peristiwa bersejarah ini menjadi salah satu tonggak penting dalam pembentukan identitas kebangsaan dan penguatan persatuan Indonesia.
Dalam konteks sejarah perkembangan bahasa Indonesia, turut dibahas peran Muhammad Tabrani, tokoh pergerakan pemuda yang dikenal melalui gagasannya mengenai pentingnya penggunaan nama dan istilah bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Gagasan kebahasaan yang berkembang pada masa pergerakan pemuda menjadi bagian dari perjalanan panjang bahasa Indonesia hingga memperoleh kedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Sejarah tersebut menunjukkan bahwa bahasa memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran kolektif, memperkuat persatuan, dan membentuk karakter bangsa.
Melalui pemahaman sejarah ini, generasi muda diharapkan semakin menyadari bahwa menjaga martabat bahasa Indonesia merupakan bagian dari upaya merawat warisan perjuangan bangsa sekaligus memperkuat identitas nasional di tengah arus globalisasi.
Selain menekankan pentingnya bahasa Indonesia, kuliah umum ini juga mengangkat perlunya generasi muda memahami fungsi bahasa daerah dan bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiganya memiliki kedudukan dan manfaat yang berbeda, tetapi dapat saling melengkapi dalam membentuk generasi yang berkarakter, berwawasan luas, dan mampu berkomunikasi di berbagai lingkungan.
Bahasa daerah merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Keberadaan bahasa daerah mencerminkan keragaman identitas, tradisi, serta pengetahuan lokal yang berkembang di tengah masyarakat.
Sementara itu, bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa nasional dan bahasa negara yang menjadi sarana komunikasi lintas daerah sekaligus simbol persatuan bangsa. Penggunaannya perlu terus diperkuat, baik dalam lingkungan pendidikan, ruang publik, maupun komunikasi resmi.
Di sisi lain, penguasaan bahasa asing menjadi modal penting untuk memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan jejaring internasional. Kemampuan tersebut memungkinkan generasi muda mengikuti perkembangan global serta berkomunikasi dengan masyarakat dari berbagai negara.
Karena itu, generasi muda perlu membangun kemampuan berbahasa secara seimbang: menghargai bahasa daerah sebagai akar budaya, menggunakan bahasa Indonesia dengan baik sebagai bahasa persatuan, dan mempelajari bahasa asing untuk memperluas wawasan serta meningkatkan daya saing global.
Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H. Mahathir Muhammad, S.E., M.M., menyambut baik kolaborasi antara Universitas Teknokrat Indonesia dan Balai Bahasa Provinsi Lampung. Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki nilai strategis dalam memperkuat kualitas pendidikan sekaligus membangun karakter mahasiswa yang memiliki kemampuan komunikasi dan literasi yang baik.
Mahathir menyampaikan apresiasi kepada Balai Bahasa Provinsi Lampung, khususnya Kepala Balai Bahasa Provinsi Lampung, Drs. Muhammad Mukhlis, M.Hum., atas dukungan dan kontribusinya dalam memberikan wawasan kebahasaan kepada mahasiswa.
“Terima kasih kepada Balai Bahasa Provinsi Lampung dan Kepala Balai Bahasa, Bapak Drs. Muhammad Mukhlis, M.Hum. Kuliah Umum Kebahasaan ini sangat penting bagi mahasiswa kami. Sebagai kampus yang terus mendorong prestasi, kami tidak hanya ingin mencetak mahasiswa yang unggul dalam teknologi, seperti peraih juara pertama LKTI nasional dan mahasiswa yang terpilih sebagai Google Student Ambassador, tetapi juga mahasiswa yang memiliki literasi kuat dan kecintaan terhadap bahasa Indonesia. Pesan ‘Kalau tidak membaca, akan tertinggal’ sangat relevan bagi generasi muda saat ini,” ujar Mahathir.
Ia menegaskan bahwa kemampuan teknologi perlu berjalan beriringan dengan keterampilan membaca, menulis, berpikir kritis, dan berkomunikasi. Kompetensi tersebut merupakan bekal penting bagi mahasiswa dalam mengembangkan gagasan, menghasilkan karya, serta menghadapi kebutuhan dunia kerja yang semakin dinamis.
Mahathir juga menekankan pentingnya keseimbangan antara pelestarian budaya dan kesiapan menghadapi persaingan global. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki identitas kebangsaan yang kuat tanpa menutup diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan komunikasi internasional.
“Sebagai kampus terbaik dan kampus berdampak, Universitas Teknokrat Indonesia berkomitmen mencetak lulusan yang memiliki trigatra kebahasaan: menguasai bahasa daerah sebagai akar budaya, menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan warisan Sumpah Pemuda 1928, serta menguasai bahasa asing untuk menembus pergaulan internasional. Inilah karakter mahasiswa yang ingin kami bangun, yakni berakar pada budaya bangsa sekaligus siap bersaing di tingkat global,” tambahnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga untuk memperluas wawasan mahasiswa, meningkatkan kualitas pembelajaran, dan membangun generasi muda yang literat, berkarakter, serta adaptif terhadap perubahan.
Penyelenggaraan Kuliah Umum Kebahasaan menjadi wujud sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga pemerintah dalam mendukung pembinaan bahasa di kalangan generasi muda.
Kolaborasi tersebut membuka ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai penggunaan bahasa, sejarah kebahasaan, budaya membaca, serta pentingnya menjaga bahasa Indonesia di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi global.
Bagi Universitas Teknokrat Indonesia, kerja sama ini sejalan dengan upaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan profesional, tetapi juga pembentukan karakter, penguatan identitas nasional, dan pengembangan kemampuan komunikasi mahasiswa.
Melalui kegiatan edukatif seperti ini, kampus berharap mahasiswa semakin aktif membaca, mampu memilah informasi secara kritis, terampil menyampaikan gagasan, serta menghargai keragaman bahasa dan budaya Indonesia.
Kuliah Umum Kebahasaan ini juga memiliki keterkaitan dengan sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya dalam bidang pendidikan, pelestarian budaya, penguatan identitas kebangsaan, dan kemitraan antarlembaga.
SDG 4 – Pendidikan Berkualitas (Quality Education)
Kegiatan ini mendukung peningkatan kualitas pendidikan melalui penguatan budaya membaca, literasi, pemahaman bahasa, serta kemampuan komunikasi mahasiswa. Literasi yang baik menjadi fondasi penting bagi proses pembelajaran sepanjang hayat dan pengembangan sumber daya manusia yang kompeten.
SDG 11 – Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities)
Upaya menghargai dan melestarikan bahasa daerah merupakan bagian dari pemeliharaan warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Penguatan kesadaran terhadap bahasa daerah dan bahasa Indonesia turut mendukung keberlanjutan identitas budaya dan kekayaan kebahasaan bangsa.
SDG 16 – Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh (Peace, Justice and Strong Institutions)
Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan berperan dalam memperkuat komunikasi, membangun pemahaman bersama, dan menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat. Literasi juga membantu generasi muda memahami informasi secara kritis dan berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
SDG 17 – Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals)
Kerja sama antara Universitas Teknokrat Indonesia dan Balai Bahasa Provinsi Lampung mencerminkan pentingnya kemitraan antara perguruan tinggi dan lembaga pemerintah dalam mendukung pendidikan serta pembinaan generasi muda. Kolaborasi lintas lembaga dapat memperluas jangkauan edukasi dan memperkuat dampak program bagi masyarakat.
Melalui Kuliah Umum Kebahasaan bertema “Pembinaan Bahasa bagi Generasi Muda”, Universitas Teknokrat Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk membangun ekosistem pendidikan yang mengintegrasikan keunggulan akademik, penguasaan teknologi, kemampuan literasi, dan penguatan karakter kebangsaan.
Mahasiswa diharapkan mampu menjadikan budaya membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, menggunakan bahasa Indonesia secara tepat, menghargai bahasa daerah, serta terus meningkatkan kemampuan bahasa asing untuk menghadapi tantangan global.
Kolaborasi dengan Balai Bahasa Provinsi Lampung juga menjadi langkah nyata dalam memperluas kontribusi perguruan tinggi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pelestarian kekayaan kebahasaan Indonesia.
Dengan semangat sebagai kampus berdampak, Universitas Teknokrat Indonesia terus mendorong lahirnya generasi muda yang berpengetahuan luas, berkarakter, mencintai tanah air, dan siap berkontribusi bagi masyarakat.
Kampus Berdampak, Kampusnya Sang Juara!
#KampusBerdampak
#KampusTerbaikdiLampung
#KampusTerbaikdiLuarjawa